Visitor

Saturday, May 4, 2013

Pernikahan

Hari ini aku ingin cerita tentang pernikahan yang baru saja dibahas kelas pagi tadi. Waktu aku ikut kelas agama, aku begitu terengah saat dosennya mulai membahas tentang pernikahan dalam Islam. Seakan aku terfokus kepadanya. Bahkan aku pun baru tahu kalau pernikahan antar sepupu itu dibolehkan. Namun ya, sepertinya itu akan sangat jarang. Tapi lucu juga sih kalau menikah dengan sepupu, soalnya mertua kita itu tante kita sendiri. 

Awalnya aku dan temanku mempresentasikan materi tentang jihad. Dan setelah itu suasana hening tidak ada yang bertanya. Aku sedikit terheran-heran. Perasaan sih, setiap kali aku presentasi, kok jarang ada yang bertanya? Apa memang yang kupaparkan membuat mereka tidak bisa bertanya? Atau memang paparanku sudah sangat jelas? Jika iya begitu, aku bahagia sekali. Tapi akhirnya muncul satu pertanyaan dari salah seorang temanku. Dan aku menjawabnya dengan singkat. Si ibu dosen menambahkan bahwa inti dari jihad sebenarnya sangat sederhana. Jihad yang dimaksudkan bukan hanya sekedar perang melawan agama, tetapi perang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sebagai manusia, kita diberikan dua hal yang dapat menguji keimanan kita. Nafsu dan akal pikiran. Kalau kita bisa melawan hal-hal buruk itu, maka kita sudah berjihad. Sesederhana itulah makna jihad sebenarnya.

Dan ketika aku menyabutkan konektor dari laptopku, aku kembali duduk di bangkuku. Si ibu dosen itu mulai memberikan materi baru tentang pernikahan. Aku sangat suka tema ini. Entah kenapa, semester enam ini aku selalu mendapatkan materi-materi tentang pernikahan, pengasuhan anak, dan keluarga. Contohnya, waktu aku masuk kelas budaya, kami sedang membahas pernikahan di Jepang dan aturan-aturannya. Setelah itu kami masuk di materi baru tentang keluarga Jepang. Kemudian ada lagi, di kelas Prakom, kami membahas tentang pandangan pernikahan orang Jepang dan Indonesia, cara mengasuh anak yang baik dan perbedaan pengasuhan di Jepang dan Indonesia, pandangan orang Jepang dan Indonesia tentang anak/keluarga. Dan di kelas agama tadi, beberapa temu muka ada yang membahas tentang bayi tabung, hubungan orangtua dan anak, cara pengajaran anak sejak dini, hingga pernikahan di Islam. Aku tidak mengherankan itu semua. Karena setelah banyak melewati semester demi semester, aku pun menyadari, Allah ingin aku dan kakak belajar mulai dari sekarang. Belajar untuk saling menghargai, belajar tentang kehidupan, cita-cita, dan apa yang menjadi tujuan hidup kita sebenarnya. Di dalamnya banyak terdapat hal-hal yang menyangkut kehidupan, misalnya, setelah menikah apa yang akan kita lakukan? Hal apa yang harus dipelajari sebelum kita menikah? Semua itu akan kami lewati bersama-sama, Insya Allah. Oleh karena itu, aku tidak lagi menganggap semua yang baru saja kulewati itu tidak berarti apapun. Justru sebaliknya, Allah menjawab do’aku. 

Waktu di kelas tadi pagi, ibu dosen itu menanyakan sebuah pertanyaan sederhana. “Disini kalian ada yang sudah punya rencana menikah?” dan sepertinya anak-anak itu tidak peduli dengan pernikahan. Mereka diam saja bahkan tidak menjawab. Aku yang lebih antusias namun tak berlebihan. “Insya Allah, sedang menuju kesana, Bu.” ucapku spontan, si ibu dosen tersenyum kepadaku. Lalu beliau berkata lagi, “Buat kalian yang muslim, yang perempuan carilah pasangan yang memiliki akhlak, tanggung jawab, dan ilmu agama yang baik. Kalian harus pikirkan matang-matang apakah dia sudah pantas menjadi calon suami kalian atau belum. Dan kalau kalian mau lihat dia lebih dalam, coba lihat ayahnya. Biasanya, karakter laki-laki tidak akan jauh dari ayahnya. Dan kalau sudah merasa yakin, istiqarahlah. Minta petunjuk Allah, kalau memang berjodoh dekatkanlah, tapi jika tidak, pisahkan dengan baik-baik.” ujar ibu dosen menerangkan.
“Dan gimana kalau calon suaminya itu berbeda agama?” seseorang bertanya.
“Kalau beda, jelas nggak boleh. Karena siapa yang akan membimbing anak-anak kalian kalau suaminya saja sudah beda agama. Anak itu yang akan jadi korban. Ia tidak akan bisa menentukan mana yang baik karena apa yang orangtuanya kerjakan itu berbeda.”

Kalau begitu sudah sangat jelas apa yang ibu dosen itu paparkan kepada kami. Aku pun tak setuju jika seseorang mencintai pasangannya yang berbeda. Lalu apa dasar cinta mereka? Apakah mereka hanya saling mencintai satu sama lain? Apakah tidak miris jadinya jika pasangan kita tidak mencintai Allah? Itu yang menjadi persoalan masa kini. Beberapa dari mereka memilih untuk “memaksakan” sebuah pernikahan yang “beda”. Padahal jelas-jelas kalau kita mempelajari Islam lebih dalam, seorang suami itu memiliki tanggung jawab yang besar kepada istri, anak-anak, dan orangtua istrinya. Nanti mereka yang akan menanggung dosa istri dan orangtua istrinya. Andai saja jika seorang suami itu noni, lalu bagaimana mereka bisa selamat dari dosa? Justru mereka tidak akan diridhoi sama sekali. Untuk apa menikah jika hanya karena saling mencintai satu sama lain. Cinta kepada pasangan saja tidak cukup. Bersama-sama mencintai Allah itu lebih mulia. Dan begitulah yang ibu dosen sampaikan kepada kami. Inti dari sebuah pernikahan itu bukan karena mewahnya. Tapi perjanjian kita dengan Allah bersama pasangan kita. Itu janji suci. Dan sangat sakral. Bukan untuk main-main. Memang betul apa yang pernah disampaikan Ustad Felix, bahwa pacaran itu jalurnya main-main. Dan nikah itu hanya bagi mereka yang serius. Tapi tidak semua laki-laki bisa menganggap pernikahannya serius kalau niatnya hanya untuk melampiaskan nafsu—agar dianggap halal bersama istrinya. Itu jelas salah besar. Dan sangat banyak pasangan yang seperti itu. Kasihan ya. Lagi-lagi, wanita yang akan jadi korbannya.