Visitor

Monday, December 30, 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. At-Taubah ayat 111

28 Desember 2013

Tahukah kamu bahwa setiap waktunya kita dikelilingi oleh 70.000 malaikat penjaga? Kita tidak bisa bayangkan betapa Allah sangat menyayangi kita. Dan ketika kita berkumpul di suatu majelis, membaca dan mempelajari Al-Qur'an, maka malaikat-malaikat tersebut memohonkan ampun untuk kita.


Bersyukurlah anak yang membaca dan mengkaji Al-Qur'an karena orangtuanya pun turut serta disebutkan namanya di hadapan Allah. Dan orangtua mana yang tidak bangga pada anak yang penghafal Al-Qur'an?

Siapa Yang Ingin Membeli Surga?

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta-benda mereka dengan (balasan), bahwa mereka akan memperoleh surga (disebabkan) mereka berjuang di jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. Balasan surga yang demikian ialah sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (kitab-kitab) Taurat dan Injil, serta Al-Qur'an dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu dan (ketahuilah bahwa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar."
(QS. At-Taubah: 111)

Saudara-saudariku, siapa yang tidak ingin membeli surga?
Siapa yang inginkan surga?
Siapa yang ingin membeli kenikmatan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal apa pun di dunia ini?
Tentu sebagai umat muslim, kita pasti mendambakan surga. Dan kita mampu untuk membelinya. Dengan cara apa?

Sungguh, surga itu sangat mahal. Harganya dapat terhitung dengan pengorbanan.
Mari, sebelum itu kita simak kisah seorang pemuda yang mampu membeli surga dengan jiwa dan hartanya.

Mush'ab bin Umair adalah seorang remaja Quraisy terkemuka, tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum." 

Mush'ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Dan pada suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Al-Qur'an dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri. Dan sejak saat itu, ia memutuskan untuk diam-diam masuk Islam. Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi. Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, "Dahulu aku lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush'ab hingga putus, sementara Mush'ab meneriakkan, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul." Maka Mush'ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul." Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!" Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, "Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah." Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!" Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, "Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya."



Sumber: http://republika.co.id



Subhanallah. Merindingkah kita mendengar cerita sahabat Nabi seperti Mush'ab itu? Menangiskah kita jika diberi kesempatan untuk melihat peristiwa pilu itu? Mush'ab mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Islam, untuk membeli surga. Dan ia meninggal di usia yang masih muda. Bahkan, mungkin sama dengan usia-usia remaja yang saat ini lebih menyukai dunia hedonisme dan bersenang-senang daripada memikirkan bagaimana kita membeli surganya Allah. 

"Sungguh, ia telah membeli surga Allah dengan jiwa dan hartanya ketika Perang Uhud."

Kita, remaja muslim.
Kita, remaja muslimah.
Namun apa yang sudah kita kerjakan selama ini?
Apakah itu sungguh untuk Islam?
Atau hanya untuk bersenang-senang di dunia?
Kita, remaja muslim.
Kita, remaja muslimah.
Harusnya malu ketika mendengar cerita dan kisah Nabi seperti pemuda Mush'ab.
Kita merelakan uang kita habis untuk hal-hal yang sifatnya sementara dan fana.
Tetapi kita tidak mau sedikit pun mengeluarkan uang kita yang di dalamnya terhadap hak fakir miskin untuk disedekahkan.
Kita takut kehilangan harta.
Kita takut akan kematian.
Lalu apa lagi yang akan kita kejar di dunia ini, wahai pemuda-pemudi?
Tidakkah kita ini pantas disebut sebagai umat Rasulullah SAW?

Lalu, bagaimana cara orang beriman untuk membeli surga?

Sepotong kurma
Belaian kasih sayang kita kepada anak yatim
Senyuman ikhlas untuk saudara

Ketiga cara di atas mungkin tidak begitu berat untuk dijalani. Tetapi, di dalam Surah At-Taubah ayat 111, Allah menekankan:

"...jiwa mereka dan harta-benda mereka."

Mengapa jiwa didahulukan?
Karena tidak semua orang mampu membeli surga dengan harta mereka. Mungkin kita pun bisa melihat, bagaimana perjuangan orang-orang yang tidak memiliki harta namun mereka sangat ingin berjihad di jalan Allah. Salah satunya dengan jiwa.

Maka dari itu, mati yang paling baik adalah mati syahid.
Mati karena membela agama Allah. Sebagaimana yang sudah diceritakan tentang pemuda Mush'ab yang mati syahid di Perang Uhud.

Pertanyaannya, apakah niat untuk mati syahid itu diperbolehkan?
Untuk menjawabnya, simak penggalan cerita di bawah ini.

Siapa yang tidak kenal khalifah Umar bin Khattab? Salah satu sahabat Nabi ini meninggal karena terbunuh oleh seorang yang bernama Abu Lu'lu'ah Al-Mahjussy. Beliau pernah berdoa kepada Allah untuk meminta dimatikan secara syahid. Dan Allah mengabulkannya. 

Ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H, beliau sempat berdoa kepada Allah di Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan ia takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya dan berdoa agar Allah memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah yaitu Madinah. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim bahwa Umar pernah berkata, “Ya Allah, aku bermohon kepadamu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di tanah NabiMu.”

Maka Allah mengabulkan doanya ini dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Maha lembut kepada hambaNya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz yaitu seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi ketika Umar shalat di mihrab pada waktu Subuh tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 H dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’lu’ah menikamnya tiga tikaman, salah satunya di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau. Akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian Abu Lu’lu’ah berlari ke belakang, sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas.

Niat mati syahid itu dibolehkan bagi kita semua dan merupakan hal yang sangat mulia. Allah pasti mengganti tangis, sakit, duka dan sedih kita di dunia dengan surga. Tentu ini sudah menjadi janji-Nya. Kita tidak perlu meragukannya lagi. Tetapi, tidaklah mudah untuk membeli surga. Dan Allah sudah mengingatkan bagaimana cara kita membeli surga di ayat tadi.


Bagaimana?
Siapkah teman-teman untuk membeli surga?

Tuesday, December 17, 2013

Saat Hidayah Menyapa

Terbukanya hati seseorang itu merupakan milik Allah subhanahu wa ta'ala semata.
Allah berfirman, yang artinya: 
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya." 
(QS. Yusuf: 103)

Ketika hidayah belum menyapamu
Sanggupkah engkau membelinya?
Masalah hati orang menerima atau tidak, itu adalah kuasa Allah semata
Dan tidak ada orang yang bisa campur tangan dalam urusan itu

Ketika engkau mendambakan hidayah
Sudahkah engkau memintanya?
Empat hal yang dimohon dan diminta oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Ya Allah
Aku mohon kepada Engkau petunjuk
Aku mohon kepada Engkau ketakwaan
Aku mohon kepada Engkau agar aku mampu untuk menjaga kehormatan diriku
Dan aku mohon kepada Engkau ya Allah akan kecukupan

Ketika hidayah menyapa hatimu
Sanggupkah engkau mempertahankannya?
Sesungguhnya Rasulullah telah mengabarkan akan suatu zaman, akan ada hari-hari kesabaran, orang yang berpegang pada agamanya, seperti memegang bara api
Ia panas, tapi ia harus dipegang, dan apabila ia lemparkan maka akan menjadi api neraka untuknya
Ia panas, namun harus segera ia pegang
Karena itu merupakan kebahagiaan untuk hidupnya di dunia dan akhirat

Maka Rasulullah memberi kabar gembira bagi mereka, yang kokoh, yang tegar, dan memegang sunnah Rasulullah di zaman fitnah seperti itu, beliau bersabda: "Orang yang berpegang kepada sunnahku di hari itu mendapatkan pahala 50 sahabat yang mengamalkan sunnah tersebut." 

Ketika kita melihat seorang wanita di tepi jalan, berpakaian tipis, menggunakan baju dengan belahan yang memperlihatkan aurat. Kemudian ia diperhatikan segerombolan pemuda dengan mata keranjangnya, apa yang muslimah rasakan saat itu?

Hati ini miris, melihat peristiwa pelecehan seperti itu. Sampai akhirnya, wanita itu berkata, "Saya bangga dengan tubuh indah saya, dan saya senang jika banyak pria yang menyukai saya dengan kelebihan saya ini. Maka, tidak ada ruginya kalau saya perlihatkan ke mereka semua."

Tidakkah dia sadari bahwa apa yang ia perbuat selalu Allah catat sebagai suatu amalan? Dan tidakkah dia sadari bahwa seorang wanita memiliki kesucian yang tidak dimiliki oleh lelaki manapun. Allah yang menciptakan keindahan itu, namun tidak adakah rasa sedikit saja ingin menjaga apa yang sudah Allah berikan?

Wanita...
Terkadang tidak menyadari apa yang diperbuatnya justru untuk menjatuhkan dirinya sendiri ke lubang.

Dan mereka masih terus membanggakan diri.





Sungguh, kita tidak mampu memberikan seluruh hidayah kepada mereka. Namun aku yakin, setiap manusia memiliki masa lalu. Entah dia pernah mengalami masa jahiliyah atau tidak, bagiku itu sama saja, karena yang terpenting dia mau memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan buruknya di masa lalu. Itu saja. Kita tidak berkuasa apa-apa atas hidayah, oleh karena itu, hanya Allah sajalah yang mampu membuat hati seseorang terbuka.

Dan aku jadi teringat cerita sahabat mengenai perjalanan hijrahnya. Ternyata, hidayah tidak hanya dapat diidam-idamkan, tapi juga dijemput. Dan aku sungguh bersyukur diberi nikmat itu. Aku pun menangis di pundaknya karena rasa syukur itu. Hidayah mempertemukan aku pada sahabat yang in syaa Allah, kami 'kan bertemu tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat, sebagai sahabat dunia dan akhirat.


Teman, mari kita ajak mereka untuk sama-sama menyapa hidayah. Dia tidak akan lari jika dia jodoh kita. Tugas kita adalah saling mengingatkan, membantu, dan mempertahankan tauhid yang sudah kita pegang. Semoga kita pun bisa bertemu di Jannah-Nya, in syaa Allah


Kelas Tadabbur AQL, November 2013. 

Sunday, December 8, 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Ali-Imran ayat 190

7 Desember 2013

Pendahuluan
Sebelum kita masuk pada tadabbur, mari simak cerita berikut ini dengan seksama.

Pada suatu hari, sahabat bertanya kepada Aisyah,

“Wahai ummul mu’minin! Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankanmu selama kau hidup bersama Rasulullah.”

Tiba-tiba Aisyah menangis. Dia terdiam dan kemudian mengenang kisahnya bersama Rasulullah.

“Sesungguhnya semua yang aku rasakan ketika bersama dengan baginda, semuanya berkesan.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Coba ceritakan, ceritakanlah yang paling berkesan.” para sahabat terus bertanya.

Aisyah terdiam lagi dan menangis.

“Suatu hari ketika kami sudah tidur, dan kami sudah begitu dekat, tiba tiba di sepertiga malam terakhir beliau terbangun dan meminta izin kepadaku. ‘Izinkan aku meninggalkanmu, aku ingin beribadah kepada Tuhanku.’ Dan kemudian aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku senang berada di dekatmu, tetapi aku lebih senang kau beribadah kepada Tuhanmu.’”

Lalu Rasulullah mengambil air wudhu dan melakukan shalat tahajud sebelas rakaat. Di dalam shalatnya, beliau menangis. Aisyah menceritakan betapa shalatnya beliau sangat khusyuk. Ketika beliau berdiri dalam shalatnya, beliau menangis dan ketika rukuk membacakan ayat Al-Qur’an beliau menangis tersedu-sedu sampai basahlah janggut, pipi, dan sajadahnya dengan air mata.  Aisyah sedang tidak shalat. Ia merinding, bergetar melihat kekhusyukkan beliau. Beliau berdoa di sela-sela dua rakaatnya, begitu nikmatnya Rasulullah dalam shalatnya sampai-sampai Bilal mengumandangkan adzan Subuh. Kemudian Bilal menjemput beliau karena sejak adzan tadi beliau belum datang juga. Bilal kaget bukan main menatap Rasulullah yang wajahnya penuh dengan air mata. Bilal pun bertanya, dan Rasulullah menjawab: “Wahai sahabatku, sesungguhnya malam tadi Allah telah menurunkan wahyu, menurunkan ayat Al-Qur’an.”

“Lantas mengapa engkau menangis?” tanya Bilal lagi.

Rasulullah kemudian menjawab, “Celakalah orang yang membaca atau mendengar ayat itu tapi tidak merenungkan isinya, tidak memahami isinya.”


Ini merupakan sebuah ayat; serangkaian ayat yang Allah turunkan namun respon Rasulullah ketika itu sangat luar biasa. Bahkan beliau meminta dibacakan ayat Al-Qur’an oleh sahabatnya. Dan ketika sampai pada ayat itu, beliau menangis dengan tersedu-sedu.

Pertanyaannya adalah:
Ayat berapa dan surat apa yang sampai membuat baginda Rasulullah menangis seperti itu?

Pada materi tadabbur kali ini, kita akan masuk dan melihat momentum di mana orang mengagung-agungkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diajarkan Rasulullah.

Apa yang membuat beliau menangis?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”

(QS. Ali-Imran: 190-191)
(Dustur Ilahi)


Rahasia Tangisan Rasulullah SAW.

Karena di dalam ayat ini terdapat peringatan akbar. 
Peringatan yang besar sekali. 
Peringatan apa?


Pesan kiamat.

Pesan kebesaran Allah.

Penciptaan Allah.

Ayat ini diturunkan oleh Allah menjadi sesuatu yang menggedor Rasulullah. Karena ayat ini memiliki kandungan, memiliki rahasia yang tersimpan di dalamnya, yang kandungannya ini harus bisa ditangkap. Nah, apa yang membuat Rasulullah menangis? Adalah karena beliau khawatir, beliau takut umatnya—yaitu kita ini, tidak bisa menangkap  ayat yang berarti tanda. Dibalik terjadinya penciptaan langit dan bumi, dan pergiliran siang dan malam, itu terdapat tanda, ada maksud, ada pesan yang harus kita pahami.

Penciptaan tersebut meliputi semua isi kehidupan. Tidak hanya alam semesta, tapi juga kejadian-kejadian yang ada di muka bumi ini. Misalnya, kita gagal pada ujian, usaha tidak maju-maju, atau ingin menikah tapi jodoh tak kunjung datang.

Semua memiliki pesan.


Peringatan Akbar Dibalik Momentum Pergantian Akhir Tahun
Tahun baru merupakan waktu yang dinanti-nantikan oleh banyak orang yang tidak paham mengenai makna bergilirnya siang dan malam yang sesungguhnya. Lihatlah, betapa banyak yang menghabiskan uang mereka hanya untuk menimbulkan suara untuk menyambut kedatangan tahun baru. Bahkan petasan dan terompet dinyalakan di mana-mana. Semuanya hiruk-pikuk. Terjadinya pergantian tahun harusnya direspon dengan banyak bermusahabah diri. Tetapi justru yang terjadi adalah banyak dari kaum muslimin bahkan yang merayakannya dengan cara yang jahiliyah.

Dan apa pesan yang terkandung dalam ayat tersebut?


1. PERINGATAN KITA UNTUK SELALU BERSYUKUR 

Bersyukur artinya memunculkan sesuatu yang tidak kita sadari. Kebalikannya dari rasa syukur adalah kufur. Orang yang kufur tidak melihat kasih sayang Allah, sehingga dia ingkar. Kufur itu tertutup. Ia selalu melihat apa-apanya kurang dan selalu merasa tidak puas. Padahal jika ia menghitung nikmat Allah, maka umur dan usia kehidupan di muka bumi ini tidaklah sampai pada banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita semua. 

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingi  mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.”

(QS. Al-Furqan: 62)

Allah menyuruh kita untuk selalu syukuuran setiap saat—begitu juga dalam konteks pergantian siang dan malam.

Sebenarnya, pergantian tahun itu ada atau tidak?

Tidak.

Yang ada hanya siang dan malam.

Apakah kemudian matahari, bulan, bumi itu menyadari dirinya bahwa mereka sudah berada di tahun 2013, misalnya?

Artinya adalah pergantian tahun hanyalah akal pikiran manusia. Sehingga, dengan demikian, jika ada orang yang merayakan tahun baru, mereka sebenarnya tidak mengerti makna bersyukur. Ini yang membuat Rasulullah menangis. Sanggup tidak umatnya untuk merespon momentum terjadinya pergantian tahun?

Dan pergantian siang dan malam itu sudah ditegaskan Allah untuk menjadi patokan-patokan atau manzilah-manzilah untuk mengetahui bilangan-bilangan tahun atau penanggalan. Tapi alam semesta itu sendiri tidak menyadari. 

Bagaimana bisa terjadinya tahun baru?
 
 
Hakikat Yang Terjadi
Hijriyah itu dihitung berdasarkan 12 kali revolusi bulan mengelilingi bumi. Sedangkan masehi dihitung berdasarkan 1 kali revolusi bumi terhadap matahari.
Pertanyaannya adalah:
Apakah alam mengatur dirinya sendiri dengan perhitungan itu? Tidak.
Manusia yang memaknai adanya pergantian tahun.

Dan yang berikutnya adalah:

Hakikat Maknawiyah
Ada tidak mesin raksasa di jagat ini yang dapat mengatur mekanisme gerakan bumi dan benda-benda angkasa lainnya dalam orbitnya?
Tidak ada.
Artinya, di sinilah kita diminta untuk memahami, sungguh-sungguh bersyukur. Dan substansi dari syukur adalah merenung, mengingat, memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Jadi kalau saat ini kita melihat banyak kaum muslimin yang merespon pergantian tahun dengan mengistimewakannya berarti sama saja tidak bersyukur. Mereka menganggap momentum itu penting. Sebegitu pentingnya sampai detik-detik kedatangannya begitu dihargai, ditunggu, dihitung dari 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, dan ketika pukul 00:00 apa yang terjadi?
Naudzubillahi min dzalik.

Kenapa dianggap tidak bersyukur?

Karena yang dipikirkan oleh mereka adalah keistimewaan untuk menyambut tahun yang baru. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan dengan menghambur-hamburkan uang atau berpesta. Coba bayangkan, jika seandainya di detik kelima pergantian tahun itu tiba-tiba bumi berhenti berputar. Apa yang terjadi?
Kiamat.
Jadi semua bentuk perayaan atau peringatan adalah bentuk kejahiliyahan. Jadi kalau ada dari di antara kita merayakan tahun baru, maka itu sama saja artinya dengan membuat Rasulullah menangis.
Lantas bagaimana cara kita menyikapinya?
Alihkan acara perayaan itu dengan banyak berzikir kepada Allah dan mengoreksi diri lebih banyak lagi. Walaupun ada beberapa pendapat menerangkan bahwa ini tidak diajarkan oleh Rasulullah (bid’ah). Namun, dengan berdzikir justru ini menjadi alternatif terbaik daripada kita tidak melakukan apa-apa sedangkan di luar sana banyak yang berpesta ria. Setidaknya, ingatkanlah teman-teman, keluarga, saudara kita untuk tidak merayakan pergantian waktu ini. 

Malam tahun baru itu bukan diramaikan dengan klakson, tapi yang digaungkan adalah istighfar. Bersyukur kepada Allah, itu adalah yang paling utama.

Allah yang membuat pergantian waktu tersebut, tetapi manusia malah merayakan pergantian waktunya. Bukan mengistimewakan yang mengganti waktu itu. Harusnya Allah yang direnungkan.


Penciptaan Langit dan Bumi


Bumi, sebagaimana benda-benda angkasa lainnya, juga membutuhkan keteraturan dan keseimbangan. Tanpa itu, jangan bayangkan akan ada kehidupan di bumi ini. Dan adakah mesin di jagat ini yang sanggup mengatur keseimbangan bumi?


Keingkaran manusia terjadi di antaranya adalah dengan melakukan perayaan-perayaan ini yang harus kita renungkan.
Dan kalau kita mengingat nikmat Allah, bukan hanya tentang buminya saja, tapi melainkan pribadi kita sendiri. Sudah berapa banyak nikmat yang kita terima sejak kita lahir di muka bumi itu? Coba itu yang dipikirkan dulu.

Bersyukur = menggali

Menggali apa?
Misalnya, ketika kita memikirkan apa yang akan terjadi jika di bumi ini tidak ada listrik?
Dan apakah kalian tahu apa yang membuat listrik itu ada?
Jawabannya adalah gravitasi.
Karena salah satu sumber pembangkit listrik kita adalah dari air. Air dikumpulkan ke bendungan, kemudian dijatuhkan, dan kemudian menghantam turbin dan turbin itu berputar, barulah menghasilkan daya-daya listrik. Bisa kita simpulkan, gaya gravitasi itu adalah nikmat. Betul?

Coba renungkan kasih sayang Allah yang begitu besar kepada kita. Bayangkan apa akibatnya jika tidak ada gravitasi bumi?
Mau minum susah, airnya melayang-layang. Ketika flu dan mengeluarkan cairan hidung, (baca: ingus) maka kita harus menahan malu. Apalagi?
Masih banyak lagi yang bisa dicontohkan.
Sungguh, tidak ada yang istimewa dari merayakan apa yang sebenarnya tidak ada. Uang dihabiskan untuk kembang api, petasan, mercon, semua itu mubazir. Dan itu sama saja kita membuang waktu, membuang uang, melakukan pembodohan, dan tentunya akan berakibat dosa. Dengan begitu, kita sama saja mendustakan nikmat Allah. Dan jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dimurkai-Nya hanya karena tidak bersyukur.

BUKTI BAHWA KITA TIDAK BERSYUKUR
Tidak merasakan nilai kenikmatan
Tidak menyadari sumber kenikmatan—yaitu Allah subhanawata’ala
Tidak mengembalikan seksistensi kenikmatan itu kepada Pemberinya
Tidak menggunakan kenikmatan itu sesuai keinginan Pemberinya
Tidak memiliki ikatan taat yang makin kokoh dengan Pemberinya

Kita bisa ambil contoh sederhana seperti berikut ini:
Pohon apa yang bisa membawa kita melakukan mobilitas ke mana-mana?
Jawabannya adalah pohon karet.
Mengapa begitu?
Karena jika tidak ada karet, maka tidak ada ban. Semua mesin penggerak menggunakan karet karena mengandung bahan yang elastis.

Tidakkah kita berpikir sampai seperti itu?

Bagaimana dengan besi?
Jika diteliti bahwa ternyata besi itu bukan berasal dari bumi. Besi adalah unsur yang diciptakan dari luar bumi. Sebelum bumi ini layak ditempati dengan atmosfir yang cukup, bumi kita ini dihantam oleh berbagai batu dari luar angkasa berjuta-juta tahun yang lalu.

"...dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia..." 
(QS. Al-Hadid: 25)

Kata anzalnaa yang berarti Kami turunkan khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Penemuan astronomi modern mengatakan bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita ini berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan "diturunkan ke bumi", persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut. Sejak saat itu, banyak para ilmuwan yang meyakini Islam karena mereka baru mengetahui keajaiban ini. Subhanallah

(Source: www. keajaibanalquran.com)

Orang yang bersyukur, mungkin tidak mereka merokok?
Karena orang yang merokok tidak ada yang mengucapkan bismillah, bukan?
Jadi merokok itu perbuatan taat atau maksiat?
Maksiat.

Jika kita benar-benar bersyukur, kita tidak mungkin mengkhianati kasih sayang Allah; mengkhianati nikmat Allah. Sungguh tega orang yang merokok karena mereka sama saja merusak paru-paru yang sudah Allah berikan dalam keadaan sehat dan utuh. Diberi uang, malah dibakar. 

Fakta menyebutkan bahwa rokok yang dihabiskan selama setahun di Indonesia ini pada tahun 2008 mencapai 240 milyar batang dalam setahun. Dan uang yang dihabiskan sekitar 120 triliyun 450 milyar. Jadi, uang yang dibakar dalam sehari bisa sampai 33 milyar oleh para perokok. Ini adalah salah satu tindakan yang tidak bersyukur. Karena jika dia bersyukur, dia akan senantiasa mengingat Allah, dia memikirkan ciptaan Allah.


2. PERINGATAN UNTUK SELALU SADAR KEMATIAN DAN ALAM AKHIRAT

“Anas ra. pernah berkata, maukah kalian aku beritahu tentang dua hari dan dua malam yang belum pernah diketahui dan didengar oleh manusia (yang masih hidup), dua malam adalah malam pertama kali di dalam kubur dan malam kedua di mana pagi harinya dilenyapkan tatkala terjadinya Hari Kiamat.”

Bukankah setiap detik yang berlalu, setiap menit yang berlalu sesungguhnya adalah sesuatu yang semakin mendekatkan kita kepada kematian. Jadi aneh jika ada orang yang semakin dekat dengan kematiannya, justru berjingkrak-jingkrak, joget-joget, dan berpesta pora. Seharusnya semakin dibuat takut.  “Ini semakin dekat dengan ajal saya.”

Bagaimana dengan malam pertama di alam kubur yang sudah pasti akan kita alami? Pernahkan kita memikirkan sampai seperti itu? Justru yang kita pikirkan adalah keindahan malam pertama bersama istri atau suami kita kelak. Padahal itu belum tentu terjadi jika Allah tidak berkehendak. Tapi kematian itu pasti namun kita tidak tahu waktunya.

Sudah siapkah kita dengan malam pertama di alam kubur nanti?

Jadi, apa yang membuat kita harus memikirkan kematian?

Yang pertama
KARENA SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN MERASAKAN MATI

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali-Imran: 185)

Kita sudah banyak melihat bukti, misalnya saudara kita, tetangga atau bahkan keluarga kita sendiri, mereka meninggal di usia muda. Tidak menutup kemungkinan bahwa kita-kita ini yang masih muda juga mungkin saja akan menemui ajalnya di usia seperti sekarang. Itulah mengapa kita harus mengingat kematian. Cara orang meninggal bisa bermacam-macam. Pernahkah melihat kecelakaan motor atau mobil yang menewaskan orang di dalamnya yang sampai-sampai isi dalam perutnya pun keluar? Darah mengalir deras dan isi otak hancur berpencar-pencar. Kita setiap hari naik kendaraan, mobil, motor, angkutan umum, pesawat atau kapal laut, kita tidak menyadari bahwa ada Allah yang menjaga dan menyayangi kita setiap saat. Dengan mengingat kematian, kita akan membangun kesadaran dalam diri kita bahwa semua keindahan kita, kekayaan, jabatan, keluarga, semua akan musnah atau hilang ketika malaikat pencabut nyawa sudah datang memanggil. Yang dapat menerangi alam kubur kita nanti hanyalah cahaya Al-Qur'an. Pernahkah kita sadari sudah berapa banyak kita menghabiskan uang, tenaga dan pikiran untuk hal-hal duniawi? Atau sudahkah kita meluangkan waktu untuk membaca, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur'an? 

Yang kedua
KEMATIAN TIDAK DIKETAHUI DATANGNYA

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)
Yang ketiga
KEMATIAN SELALU MENGIKUTI DAN TAK BISA DIHINDARI

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’”
(QS. Al-Jumuah: 8)
Yang keempat
KEMATIAN TIDAK BISA DITUNDA

“Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun: 11)

Yang kelima
KEMATIAN ADALAH AWAL KESENGSARAAN ATAU KEBAHAGIAAN YANG PANJANG

Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.
(HR. Tirmidzi)

Kematian seorang yang mukmin diberikan cahaya-cahaya di dalam kuburnya dan tidak merasakan gelap atau takut sekali pun. Jiwa yang diisi dengan rasa cinta kepada Allah, maka Allah pun akan mencintainya. Semoga kita bisa menjadikan diri ini tidak menerima kesempatan untuk berlaku maksiat. Karena sungguh, 'keindahan dalam maksiat' sebenarnya tidak pernah ada. Mereka bilang ini indah. Mereka bilang itu nikmat. Bukan seperti itu kita memandang suatu keindahan atau kenikmatan. Mereka hanya merasakan kesenangan sesaat yang dapat menyeretkan mereka masuk ke pintu neraka. 

Rasulullah bersabda, "Seseorang yang cerdas adalah seseorang yang mampu mengaitkan apa pun dengan kematian."

Dan karena kematian kita tidak dapat ditebak-tebak kapan datangnya, di mana tempatnya, sedang bersama siapa nanti kita, dan bagaimana rasanya dicabut ruh kita ini dari jasad. Apakah sakit? Atau justru tidak terasa apa-apa? 

Wednesday, December 4, 2013

Tadabbur Al-Qur'an


Materi Tadabbur QS. Al-Anfal ayat 1-4
Karakter Mukmin Sejati





30 November 2013

Sebelum kita masuk ke pembahasan mengenai karakter mukmin sejati, ada baiknya kita baca dan pahami dulu pengantarnya di awal ayat.

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaiki hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anfal: 1)


Pada ayat pertama dijelaskan bahwa harta rampasan perang merupakan milik Allah dan Rasul. Kemudian ditekankan, maka bertakwalah kepada Allah


Kita akan mengingat bagaimana keadaan zaman Nabi dulu terhadap harta. Mereka, para sahabat memerangi hawa nafsu mereka dari limpahan harta yang ada saat itu. Mereka tahu bahwa semua yang mereka miliki adalah milik Allah. Maka dari itu, dibagilah harta-harta tersebut menjadi dua: halal dan haram. Yang ditinggalkan adalah yang haram—yang bukan hak mereka. Dan sebaliknya, yang diambil adalah yang halal—yang merupakan bagian dari hak mereka.


Mengapa Allah meminta kita untuk taat dan patuh kepada-Nya?

Karena ini merupakan peringatan untuk para mukmin yang akan dijelaskan di ayat berikutnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhan-nya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
(QS. Al-Anfal: 2-4)

Karakter Mukmin Sejati
Al-mu’minuuna haqqal imaan.

Poin pertama,
Al-Qur’an

“..dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya..”

Seorang mukmin dapat dikatakan benar-benar beriman jika ia membaca Al-Qur’an, kemudian bertambahlah imannya. Pernahkah kita melihat orang lain yang ketika membaca atau memahami Al-Qur’an, mereka sampai menangis dan membenarkan apa yang disampaikan di Al-Qur’an?

“Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad)”
(QS. Al-Maidah: 83)

Mungkin tidak perlu jauh-jauh, coba tengok diri kita sendiri. Pernahkah satu kali saja dalam hidup kita, membaca Al-Qur’an dan memahami artinya sampai kita benar-benar merasa masuk dalam teduhnya ayat-ayat tersebut? Kebenaran dalam Al-Qur’an membuat kita menyadari akan apa-apa saja yang sudah kita perbuat dulu. Sehingga, mulailah hati kita bergetar untuk merasakan kekuatan Al-Qur’an.


Atau sebaliknya. Ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak merasakan ketenangan sama sekali?

Jangan salahkan Al-Qur’an. Ini berarti ada yang salah dalam diri kita.



Ujian

Seorang mukmin tidak akan disebut mukmin sejati jika ia belum pernah melalui yang namanya ujian. Bagaimana ujian tersebut memperkuat iman mereka?


Ujian tersebut justru membuat diri mereka semakin yakin terhadap kebenaran Al-Qur’an. Kembalilah, kembalilah kepada Al-Qur’an. Jika masalah dan problematika di dunia ini terlalu berat untuk kita hadapi, komunikasikanlah bersama Allah. Mungkin ada sebagian dari kita yang ketika ditimpa musibah langsung mencari pertolongan melalui teman atau saudara. Padahal yang lebih diutamakan adalah Allah. Barulah kita berbagi bersama saudara kita. Salah satu cara mukmin sejati untuk mencurahkan isi hati kepada Allah adalah dengan membaca Al-Qur’an.


Lalu bagaimana dengan solusi dari suatu perkara atau permasalahan yang sedang dihadapi?

Al-Qur’an adalah jawabannya. Apa yang ada di muka bumi ini, semua sudah jelas dan tertulis rinci di Al-Qur’an. Masalah apa pun itu, Al-Qur’an yang akan menjadi obat untuk kita semua. Maka, jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang sungguh sangat singkat.


Sentuhlah, ciumlah dengan penuh takzim. Kita mungkin belum merasakan bagaimana Al-Qur’an menjaga kita nantinya, tetapi ketika hari itu datang, di mana tidak ada seorang pun yang akan selamat dari perbuatan dosanya, hanya Al-Qur’anlah yang dapat menjadi penolong satu-satunya. Al-Qur’an jangan hanya dijadikan sebagai penghias rumah saja. Tidak akan ada manfaatnya jika kita tidak mau memahami.


Beriman Kepada Al-Qur’an
Bacalah dengan penuh rasa cinta, dalami apa yang Al-Qur’an sampaikan. Maka dari itu, kita tidak cukup dengan membaca dan melihat terjemahannya saja. Kita perlu untuk memahami, mentadabburi, kemudian mengamalkannya, dan jadikanlah sebagai obat.


Suatu ketika saya pernah mengalami suatu situasi yang membuat saya bimbang dalam dua hal. Pertama, saya putus asa terhadap solusi dari permasalahan saya dan mencoba ‘kabur’ untuk menghilangkan rasa ‘sakit’ itu dari diri saya. Kedua, saya hadapi dengan ikhlas dan memohon kepada Allah untuk diberi kekuatan lewat Al-Qur’an. Saya lakukan poin pertama. Pada saat itu, saya tahu betul bahwa sebenarnya solusi tersebut ada dalam Al-Qur’an. Tetapi bisikan setan yang kuat membuat saya lupa diri dan meninggalkan kebenaran. Sehingga datanglah pertolongan Allah yang mengingatkan saya untuk kembali kepada-Nya. Subhanallah. Jika bukan karena atas izin-Nya, mungkin saya tidak akan pernah kembali. Dan kita juga mengetahui bahwa yang dapat memberikan hidayah hanyalah Allah semata—bukan manusia.

Rasa takut akan azab Allah juga semakin kuat apabila kita masuk di dalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.
Seperti pada suatu ayat,

“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji.”

Jika kita benar-benar beriman kepada Al-Qur’an, maka rasa takut itu akan sendirinya muncul. Rasa takut kepada Allah yang membuat hati kita mengatakan untuk menjauh dari perbuatan-perbuatan keji. Melihat kejadian yang ada, justru kini malah semakin banyak manusia yang takut pada manusia lainnya. Misalnya, seorang karyawan yang lebih takut untuk datang pagi ke kantor agar tidak terlambat dan dimarahi bos. Ia berangkat pukul empat pagi karena rumahnya yang jauh. Tetapi ia tidak takut kepada Allah telah meninggalkan shalat Subuh hanya karena ia ingin datang lebih awal ke kantornya.

“Sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang terkena air. Obatnya adalah tilawatil Qur’an wal dzikrul mauut.”

Jika shalat atau ibadah kita yang lainnya tidak menghadirkan rasa takut pada azab dan kematian berarti kita tidak benar-benar khusyuk. Anggap shalat kita itu adalah shalat terakhir kita. Sehingga kita mampu memberikan yang terbaik untuk Allah. Pertanyaannya adalah, apakah dalam sehari kita pernah merasakan benar-benar shalat dengan khusyuk? Atau kita mengerjakan shalat hanya karena ingin menjalankan perintah saja?

Mukmin sejati tidak menjadikan shalat dan ibadah lainnya sebagai suatu hal yang wajar dijalani umat muslim. Tetapi mereka menjadikan ibadah sebagai kebutuhan. Lebih dari sekadar perintah. Dengan beribadah, kita tidak hanya akan menjalankan kewajiban, tetapi sebagai bentuk cinta, kasih sayang, dan kedekatan kita kepada-Nya.   


Shalat itu adalah tiang untuk mengokohkan iman. Jika tiang kita sudah rapuh, apa kabar dengan iman kita?

Mereka yang diingatkan akan dosa-dosa, lalu tidak beristighfar, maka dikhawatirkan iman mereka sudah semakin menipis. Banyak juga kejadian seperti orang yang lebih takut terhadap petinggi besar daripada Allah. Contohnya adalah ketika seorang pejabat atau presiden masuk di suatu ruangan, mereka yang ada di dalamnya serentak diam dan mendengarkan. Namun berbeda dengan respon mereka ketika dibacakan Al-Qur’an atau mendengarkan panggilan shalat. Mereka tetap meneruskan aktivitas mereka dan seolah-olah tidak mendengar apa pun. Apalagi jika ada orang yang tilawatil Qur’an dari masjid, tidak ada satu pun yang ikut larut dalam keindahan ayat-ayat suci—yang dilakukan justru terus berbicara kepada teman atau bahkan sesekali tertawa dengan kerasnya. 

Al-Qur’an, sekali lagi, bukanlah sebuah dongeng zaman dulu yang cerita di dalamnya tidak memiliki makna. Tetapi, Al-Qur’anul kaarim adalah kitab yang tidak akan pernah habis masanya. Tidak akan ada kadaluarsa, tertinggal atau bahkan jadul. Jika dibandingkan dengan buku-buku yang manusia buat, maka Al-Qur’an tidak akan pernah habis pada satu zaman. Mungkin dalam catatan sejarah ada yang namanya penulis sepanjang masa—yang karyanya terus dikenang. Buku-buku yang ditulis dijadikan film kemudian banyak orang yang berdatangan untuk menontonnya. Tetapi apakah sama dengan Al-Qur’an? Tidak. Tidak akan pernah sama. Maka dari itu, banyak ilmuwan yang mulai menganalisa dan menyadari kebenaran Al-Qur’an. Kitab ini benar-benar wahyu dari Tuhan. Tidak dibuat dari akal manusia. Aturan-aturan bisa saja berubah jika manusia yang membuatnya. Tapi tidak dengan Al-Qur’an. Dari sejak diturunkannya, hingga kiamat pun, Al-Qur’an tidak akan berubah satu ayat pun.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.”
(QS. Az-Zumar: 23)

Kaum Dzalim

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang dzalim, hanya akan menambah kerugian.”
(Al-Isra: 82)

Mungkin kita melihat dan mengetahui bahwa orang dzalim itu adalah mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah. Mereka tidak beriman. Bahkan untuk mendengar bacaan Al-Qur’an saja mereka tidak mau. Tetapi bukan hanya orang-orang seperti itu yang dikatakan dzalim. Kita, juga bisa dikatakan sebagai seorang yang dzalim, apabila kita sudah diingatkan, sudah mengetahui tentang ayat-ayat Al-Qur’an tapi kemudian berpaling. Allah yang akan mengunci hati kita dan tidak akan diberi ruang untuk masuknya kebenaran. Naudzubillah min dzaliik. 

Rabbana aamana faktubnaa ma’syabiriin.

Mari kita ajak saudara-saudari kita, teman-teman terdekat, ibu dan bapak kita untuk menjaga keimanan kita kepada Al-Qur’an. Bagi teman-teman yang ingin belajar bersama kami di kuliah tadabbur, bisa datang ke:
Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQLIC)
Jl. Tebet Utara 1/40, Jakarta Selatan.
@AQLIslamiCenter
@qgeners (Qur’an Generation)
Insya Allah kami akan mengadakan kuliah tadabbur setiap Sabtu, pukul 13:30-15:30 WIB yang akan diselingi dengan shalat Ashar berjamaah. Sebelumnya akan diawali oleh kuliah bahasa Arab bersama Ustadz Utsman Baco.
Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju majelis ilmu-Nya.

Poin kedua,
Tawakkal

“..dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal..”

Apa itu tawakkal?
Secara bahasa, tawakkal artinya bersandar kepada seseorang.
Tawakkal kepada Allah artinya menyerahkan semua urusan kita setelah adanya berusaha, kerja keras, dan biarlah Allah yang menentukan hasil akhirnya. Ada kalanya suatu keputusan itu tidak kita senangi, tetapi sebenarnya baik bagi kita. Bagaimana dengan contoh seorang yang beriman tetapi mendapatkan pasangan yang tidak seperti dirinya?
Bukankah Allah telah janjikan wanita baik untuk lelaki baik dan wanita keji untuk lelaki keji?


Tawakkal dan bersabarlah. Allah mencurahkan kasih sayangnya kepada kita dengan menghadirkan pasangan yang tidak beriman. Mungkin saja itu sudah menjadi takdir yang tertulis. Dan pada tahun kesekian, atas izin Allah, pasangan yang tidak beriman itu akan mendapatkan hidayah melalui pasangannya yang beriman. Tidak ada yang tidak adil. Allah telah memperhitungkan setiap rezeki, nikmat, dan jodoh yang akan diperoleh hamba-hamba-Nya. Cara Allah menyatukan dua insan yang sudah tertulis namanya di Lauh Mahfudz sangat beragam. Ada yang dipertemukan karena sama-sama senang. Ada juga yang awalnya merasa terpaksa, namun pada akhirnya cinta dan kasih sayang Allah mampu meluluhkan hati mereka. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semua keinginan kita. Karena naluri manusia pasti memiliki shahwat. Oleh karena itu, fokuskan yang terbaik hanya pilihan dari Allah saja.

Uang Dari Mana?
Ada kisah menarik yang kita dapat petik hikmahnya. Ini mengenai ideologi seseorang ketika ingin menikah. 

Bagaimana bisa menikah jika belum mempunyai pekerjaan? Bagaimana bisa menikah jika belum punya rumah, mobil, perabotan rumah tangga, belum lagi biaya pernikahan itu mahal.

 
Pemikiran seperti ini tentu akan menjadi hambatan seseorang yang sebenarnya sudah mantap menikah untuk menyempurnakan ibadahnya tetapi tertunda karena masalah materi. Mungkin sudah banyak yang terjadi, bahwa pernikahan dijadikan suatu acara yang wajibnya adalah mengundang ratusan bahkan ribuan tamu untuk memeriahkannya. Dan walimah yang berlebihan ini sebenarnya tidak pernah ada dalam hadist Rasulullah. 

Menikah berarti menyatukan dua insan yang berbeda antara lelaki dan wanita. Sudah sewajarnya mereka saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi manusia selalu menginginkan kesempurnaan dalam hidup. Apalah arti menikah jika awalnya saja sudah diiringi hawa nafsu? 

Suatu ketika, ada seorang suami yang menikahi istrinya dengan tidak bermodalkan apa-apa. Uang tidak ada, mobil dan rumah apalagi, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya dan terus memohon rezeki kepada Allah. Atas izin-Nya, menikahlah ia. Dengan gaji kurang dari Rp, 500.000, ia dapat mememuhi kebutuhan hidup bersama istri dan anak-anaknya. Ia bertawakkal dari setiap apa yang didapatkannya. Usaha dan kerja kerasnya dikerahkan sedemikian kuat demi mencari ridha Allah. Tentu ini menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah benar dengan uang seminim itu mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Sedangkan jika kita lihat sekelompok manusia yang memiliki jabatan tinggi di bidangnya, mereka selalu saja mempertanyakan, mau dihabiskan untuk apa lagi uang-uang ini?

Begitulah Allah membedakan orang-orang yang kufur akan nikmat-Nya dan orang-orang yang bersyukur. Tidak ada yang akan terjadi pada mereka yang tetap berbahagia dengan rezeki Allah yang biar sedikit tapi disyukuri kecuali nikmat yang ditambah. 

Lalu pertanyaannya adalah, sudahkah kita bersyukur akan nikmat hari ini?
Seberapa besar masalah yang sedang kita hadapi dibandingkan nikmat yang Allah berikan?

Poin ketiga,
Shalat

“..(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat..”

Siapa sajakah mereka yang benar-benar mendirikan shalatnya?
Bagaimana cara mereka menjaga shalat?
Mukmin sejati menjaga shalat mereka dengan tidak mengulur-ulur waktu. Jika tiba saatnya shalat, mereka menyegerakan. Bahkan sudah siap dengan sarung dan peci mereka. Mereka berdiri di barisan shaf paling depan dan menunggu seusai adzan lalu melaksanakan shalat sunnah rawatib. Seusainya, mereka tidak terburu-buru dalam berdoa bahkan menyempatkan untuk bertilawah. 

Wanita mana yang tidak senang dengan pria yang selalu menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid? Memakai pakaian yang rapi, bersih, dan selalu dalam keadaan berwudhu. Maka mereka itulah yang nantinya akan bertemu dengan wanita yang sama dengannya. Wanita yang senantiasa menjaga shalat, wudhu dan ibadah lainnya dari berbagai macam godaan. Wanita yang senantiasa menjaga pandangan mereka sehingga Allah menyayanginya dan menghadirkan pasangan yang juga indah dipandang mata. 




Tidak ada doa yang lebih indah dari mendoakan sesama muslim tanpa diketahui keduanya hingga pada hari yang telah ditentukan mereka bertemu untuk cinta mereka kepada Allah.

Poin keempat,
Infaq

“..dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka..”

Belajar ikhlas salah satunya adalah dengan berinfaq atau bersedekah. Ini juga yang menjadi karakter mukmin sejati. Ketika azzam sudah kuat, perbanyaklah doa dan berusahalah untuk mengerjakannya jika Allah siapkan kesempatan itu. Sedekah tidak akan membuat kantong miris. Allah telah siapkan balasan dari satu benih kebaikan yang kita tanam.

Ini juga yang membuat Zakariya terheran-heran ketika memasuki mihrab Maryam. Ia selalu bertanya, dari mana asalnya makanan-makanan itu? Maryam berkata, “Ini adalah rezeki dari Allah.”

Maryam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Ia selalu berusaha bertawakkal dan menerima takdirnya. Ujian yang diberikan kepadanya adalah kehamilan tanpa seorang suami. Sehingga ketika lahirnya Nabi Isa kecil, Allah mengizinkannya untuk dapat berbicara seperti orang dewasa. Sejak itulah, banyak yang berselisih paham mengenai kejadian aneh tersebut. Hanya kepada Allah kita beriman dan hanya kepada Allah kita berserah diri. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dan amat sangat mudah bagi Allah untuk mengabulkan doa-doa kita selama kita menjaga keempat poin ini, yakni iman kepada Al-Qur’an, bertawakkal dalam keadaan apa pun, menjaga dan mendirikan shalat, dan berinfaq di jalan Allah.