Visitor

Friday, December 28, 2012

uas pertama part 2

Assalamualaikum saudara sekalian. Alhamdulillah nih, sudah sampai dirumah dengan selamat :DD Alhamdulillah, mau cerita tentang uas pertama mulai dari pengantar terjemahan sampai prakom-nya nih. Boleh yaaaaa? Ya, waktu uas pengantar, sebenarnya ngga begitu sulit sih. Tapi ada beberapa bagian yang buat gue linglung sendiri huwaaa T__T yang masih diinget waktu mau menerjemahkan "aniaya" dan gue lupa cek KBBI. Jadi sebenarnya kata "aniaya" itu kalau dijadikan "peng-an" bagaimana?

"Penganiayaan" atau "Penganiyayaan" atau??? yak, gue dibuat bingung sendiri sama spelling-nya. Betul sekali, jangan anggap remeh ketika menerjemahkan naskah dari bahasa asing ke bahasa ibu kita sendiri. Jangan salah, terkadang sedikit salah eja saja sudah membuat kesalahan fatal loh. (kata sensei di kampus) sebisa mungkin RAPIH. Tapi Alhamdulillah loh semua bisa dikerjakan dengan baik. Insya Allah, nilai gue di mata kuliah ini bisa jauh lebih baik dari nilai-nilai sebelumnya di semester kemarin. Jelas terlihat sangat beda, sekarang kalau mau belajar rasanya semangaaaaaat terus. Bener banget, kalau kita punya tujuan, motivasi, dan dukungan dari orang terdekat, keluarga, ketika kita sedang berjuang untuk "lulus" begitulah rasanya, tidak capek, tidak lelah, tidak ingin menyerah, dan rasanya ingin terus mencoba sampai titik penghabisan. Ingat kata-kata Mama dan Ibu waktu itu. "Nak, kamu yang fokus ya belajarnya. Udah ada yang nunggu dan ditunggu kan? Jadi, ngga boleh malas ya." ya bu, ya mah. Insya Allah aku dan Kakak bisa terus berjuang dan mempertahankan semuanya dengan baik. Insya Allah kami kuat, Insya Allah kami terus selalu diberikan jalan Allah yang indah, jalan Allah yang lurus.

Nah, itu cerita tentang uas terjemahan. Bagaimana kalau prakom? Begini ceritanya...

Sekitar pukul satu siang, gue beserta temen-temen seangkatan ngumpul di Ruang 202. Yak, cuma 50-an kok satu angkatan. Banyak kan? T____T begitu sampai, ternyata sensei bilang, "Sepertinya ngga muat ya kalo kalian satu angkatan di ruang kecil gitu?" ya, kami menyadari kok, ruangan yang biasa dipakai untuk kelas Tata Bahasa itu hanya cukup jika diisi sekitar 20 orang saja. Kalau lebih dari itu, biasanya kami merasa agak gerah. Maklum, ruangannya ga begitu luas. Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke kelas yang lebih besar. Di Ruang 402, lantai 4. Di kampus ngga ada lift, maklum mirip sekolah gitu, jadi buat apa pakai lift segala? Wong cuma empat lantai aja sih ya. Nah, begitu sampai diatas, ternyata oh ternyata TIDAK ADA AC. Ya, beberapa dari kami pun mencoba menghubungi petugas untuk dinyalakan AC-nya. Tapi ternyata kata pak petugas AC di ruangan tersebut sedang rusak dan kebetulan kelompok pertama yang maju (yang presentasi) itu kelompok gue... Hiks. Baru aja gue memperkenalkan diri kelompok gue dan bilang "De ha, hajime...ma..." "Maaf Bu, AC di ruangan ini memang mati. Kalau mau pindah ke lantai 2 aja." GUBRAKKK. Gimana ya, udah terlanjur disini. Dan seketika itu gue langsung memperhatikan audiences. Semua asik berkipas-kipas ria sambil agak membuka baju mereka *bagi yang cowok* duh ampun, ternyata sepanas ini rasanya. Dan gue masih heran sambil cengo, sensei gue yang orang jepang itu kok malah ngga keringetan sama sekali? Padahal jelas-jelas kami semua disini sudah bermandikan keringat. Wajahnya yang putih berubah jadi agak merah, ya seperti begitulah pengakuan orang jepang yang sudah lama tinggal di Indonesia. Ternyata tubuh dan kulit mereka pun berubah menyesuaikan cuaca dan iklim di Indonesia. 

"De ha, hajimemasho..." akhirnya presentasi dimulai. Dan dengan percaya diri gue menjelaskan satu per satu sambil terus memperhatikan temen-temen gue yang terus kipasan. Beneran panas ya? Tapi sungguhan, kalau diingat-ingat dulu juga pernah kejadian seperti ini dan gue mandi keringat. Tapi hebatnya, semenjak pake jilbab gue ngga pernah ngerasa gerah banget. Justru, adem. Nah, begitu gue selesai mempresentasikan bareng dua temen gue, anak-anak terlihat ngga ada yang mau nanya. Mereka sibuk kipasan. Dalem hati, udah kek ngga usah ada yang nanya, panas begini juga, sambil lesehan. Baru kali ini gue lihat ada perkuliahan (UAS LAGI) semuanya lesehan. Lucu. Lucu bed gue bilang ini :DD seusainya, ada dua pertanyaan yang dilontarkan sensei untuk kami. Jujur, ini diluar dugaan kami. Kami pikir akan sesulit apa gitu. Kami pikir akan selama apa kami berdiri disitu. Ternyata rasa deg-deg-an atau nervous ngga lagi dirasakan. Rasanya sudah kebal semenjak kuliah.

Begitulah kira-kira cerita untuk uas pertama ini, selalu ada hal yang menyenangkan, selalu ada hal yang membuat kita akan terus bersyukur. Jujur, aku sangat senang dengan kuliahku yang sekarang. *LOH KOK JADI AKU* back to Gue. Iya, gue seneng banget dengan perkuliahan yang sekarang. Gue ngga begitu mempedulikan teman-teman yang lain, yang sibuk, yang ngajak jalan, yang main geng-an, bahkan adek kelas yang minta kenalan sampe minta gue untuk jadi tutor dia. Bukannya ga peduli, tapi memang gue lebih memprioritaskan kefokusan gue untuk kuliah aja saat di kampus. Buat gue, kampus ga sepenuhnya tempat untuk cari jodoh atau teman, kampus ya untuk belajar. Sepenuhnya untuk belajar. Karena sekarang, bagi gue, sudah bukan lagi saatnya main-main. Mau sampai berapa tahun kuliah? Kuliah itu bukan seperti sekolah, yang bisa dibantu kelulusan sama guru pembimbingnya. Di kampus, di dunia perkuliahan, kita semua yang urus. Mau berapa tahun kuliahnya, kita semua yang atur. Ngga ada campur tangan dosen lagi, dosen ya dosen, mahasiswa ya mahasiswa. Jadi, buat kalian yang ingin berlama-lama di kampus karena ada gebetan atau sebagainya, silahkan saja berlama-lama karena memang menjadi malas lebih mudah dibanding menjadi rajin. Tapi gue, ngga akan mau dan ngga akan bisa mengorbankan waktu gue yang lebih berharga hanya untuk kuliah lebih dari empat tahun. Kasihan orangtua sudah bayar setiap semesternya, moso kita mau leha-leha dan biarkan nasib membawa peruntungan kita mau lulus tahun berapa. Malu kan kalau sampe kita lulus bareng junior yang tadinya minta tutor ke kita? 

Semoga ini bisa menjadi inspirasi buat yang membaca. Semoga kalian yang membaca bisa lebih semangat kuliah, jangan ditunda-tunda. Lebih baik rela-relain rajin sekarang daripada "nanti-nanti sajalah rajinnya, wong masih muda yang penting have fun dulu". Mau sampai kapan?

No comments:

Post a Comment