Visitor

Friday, September 23, 2016

moved to Moeslema.com


Teman-teman,

Blog ini akan segera saya non-aktifkan. Jadi, kalian bisa melihat artikel saya di alamat website berikut ini.

KLIK!

Terimakasih.

Wednesday, August 3, 2016

Moeslema Curator Batch I - Open Registration



Assalaamu’alaikum teman-teman semuanya,

Ada berita bagus nih untuk kalian semua yang suka dan tertarik dengan dunia tulis-menulis. 
Mau belajar jadi jurnalis handal?
Mau tulisan kamu muncul di website kurasi?
Nah, Moeslema.com kini sedang mencari Exclusive Curator di web curation.moeslema.com nih! Kalian bisa ikut gabung dan mengisi form registrasi terlebih dahulu. Kalian juga perlu tahu bahwa Moeslema.com sudah resmi menjadi web kurasi pertama di Indonesia, lho! Dan kami mengkhususkan untuk pendaftar muslimah saja. Untuk itu, pada saat kita adakan pertemuan-pertemuan resmi atau sekedar silaturahim antar anggota, jangan berharap akan bertemu dengan lawan jenis ya? Hehehe. 

Untuk persyaratannya bisa dibaca di bawah ini.

Persyaratannya Utama:
1. Usia minimal 18 tahun 
2. Muslimah dan berdomisili di Indonesia
3. Suka menulis 
4. Punya Passion dibidang: 
a. Lifestyle
b. Fashion&Beauty
c. Travel
d. Islam
e. Recipe &Culinary
f. Entrepreneurship
g. Review

Keuntungan Menjadi Exclusive Curator:
Dapatkan coaching clinic gratis tentang berbagai topik, fee/artikel yang kami publish, undangan ke berbagai event, produk dari partner kami, akses kolaborasi dengan partner, dan banyak hal menarik lainnya moeslemates.

Caranya:
Sign Up di curation.moeslema.com.
Isi Form Pendaftaran (ada dibawah)

Pendaftaran ditutup pada tanggal 12 Agustus 2016 jam 23.59 WIB.
Pengumuman Exclusive Curator terpilih akan dikirim via email pada tanggal 15 Agustus 2016 atau akan diberitahukan jika ada perubahan.
Tunggu apalagi? Ayo bergabung bersama kami dan jadilah Exclusive Curator di curation.moeslema.com

Info lebih lanjut:
Dian Kurnia Utami
Hp: 085289525559
Email: dian@moeslema.com

Nah, teman-teman bisa langsung isi formulirnya di link berikut ini ya:


Ayo teman-teman semua gabung bersama aku dan Curator lainnya untuk mendapatkan banyak manfaat, ilmu dan relasi seputar dunia tulis-menulis. Seru, kan?

Sunday, July 17, 2016

Movie Review: Rudy Habibie



"Jadilah mata air yang jernih. Maka, di sekelilingmu juga akan jernih. Tetapi jika kamu menjadi mata air yang kotor, maka di sekelilingmu akan mati."


Begitulah kira-kira ucapan yang keluar dari seorang Ayah kepada anaknya yang begitu antusias untuk menjadi seorang pencipta pesawat. 

Selama film berlangsung, saya terus memperhatikan detil-detil setiap sepatah dua kata yang diucapkan oleh pemain. Saya sangat suka dengan permainan kata yang cukup memberikan energi positif kepada siapa saja yang menontonnya. Terutama pada setiap adegan yang menyorotkan kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya. Keyakinan dan tekad yang kuat membuat Habibie kecil menjadi sosok anak yang cerdas dan penuh percaya diri. 

Bacharuddin Jusuf Habibie, yang kita kenal sebagai sosok pria yang amat setia kepada almarhumah istrinya -- Ibu Ainun, ternyata sewaktu beliau masih duduk di bangku kuliah pernah menjadi idola yang menyedot perhatian para gadis. Cara bicaranya yang sangat khas, antusias, penuh keyakinan, dan selalu menempatkan di mana letak fakta - masalah - solusi di waktu yang bersamaan. Begitulah cara beliau meyelesaikan suatu kasus. Rudy, panggilan kecilnya, juga pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen. Hingga sampailah Rudy berkenalan dengan gadis Jerman berdarah Polandia yang fasih berbahasa Indonesia, dialah Ilona Ianovska. 

Perjalanan Rudy hingga berhasil menjadi 'mata air' seperti yang dikatakan Ayahnya tidaklah mudah. Ia mampu membuat bangga keluarganya, termasuk Ibunya. Ia berhasil membuktikan kepada seniornya di kampus bahwa ia mampu mengingat semua pesanan yang diucapkan hanya sekali dengan tanpa ada sedikit pun kesalahan. Di sini kita tidak hanya belajar bagaimana Rudy merancang rencana yang matang hingga menjadi suatu konsep yang menghantarkan ia menjadi orang nomer 1 di Indonesia itu, tapi kita juga akan melihat bagaimana persahabatan yang dibangun Rudy dan teman-temannya menjadikan suatu kisah yang dapat menginspirasi kita semua.

Cerita di dalam film Rudy Habibie ini mengantarkan semua penonton masuk ke era 40 sampai 50-an. Musik yang diputarkan, gaya berpakaian yang dikenakan para pemain dan beberapa benda jadul yang diperlihatkan. Walaupun kisah cinta Rudy dan llona berakhir pada perpisahan, cerita mereka berdua menjadi salah satu cerita romantis yang pernah saya dengar. Rupanya Rudy amat mengagumi gadis pertengahan Jerman - Polandia itu. Salah satu yang terus saya ingat dari kata-kata Ilona kepada Rudy adalah bahwa bahasa mengantarkan kita untuk membuka jendela dunia -- kita bisa menjadi seseorang yang sukses dengan memahami bahasa. Saya mendapatkan rasa kepercayaan diri yang penuh dengan hanya mendengarnya satu kali saja. Tokoh Ilona cukup menginspirasi saya untuk terus mengarungi lautan-lautan yang ada di belahan dunia ini tanpa berhenti mengeluh.

Monday, July 4, 2016

Movie Review: Descendant of the Sun

Hello fellas, apa kabar semuanya? :)


Hari ini aku akan coba untuk memberikan review tentang drama Korea yang baru saja kutonton yang berjudul Descendant of the Sun. Mungkin akan mulai masuk di stasiun TV Indonesia pertengahan Juli. Ada yang tahu drama ini? Aku baru saja menyelesaikan 16 episode dalam waktu kurang dari 4 hari. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk menonton drama, jadi aku selalu cicil per harinya. Awalnya karena rekomendasi dari seorang teman yang juga pecinta drama Korea. Dan memang sejak SMP aku sudah addicted sama drama Korea dan soundtrack-nya. Harus kuakui, setiap kali nonton drama Korea harus siap-siap bertarung sama waktu tidur dan persiapan tisu karena aku pasti nangis.

Anyway, kalau aku lagi kena syndrom sama salah satu drama Korea, pasti aku download semua lagunya dan aku setel sebanyak mungkin sampai aku bosen. Bahkan ngga banyak yang aku hafalkan di luar kepala. Itulah sebabnya aku pengen banget belajar bahasa Korea secara intensif, supaya pas lagi nonton drama ngga perlu terlalu mengandalkan subtitle, hehehe.

Oke, daripada terlalu banyak introduction kita langsung saja masuk ke movie review-nya ya.

Song Joong Ki (Yoo Shi Jin) adalah kapten pasukan khusus yang menawan dan banyak menarik perhatian wanita. Nah, ceritanya sih menurutku agak rumit ya karena mungkin tidak biasa di kalangan masyarakat pada umumnya. Karena ini melibatkan negara mereka dan banyak pihak yang harus dibela lho. Kalau misalnya ada panggilan tugas yang mendadak, Shin Jin harus patuh dan langsung berangkat menuju TKP.

Awalnya Shi Jin bertemu dengan Kang Mo Yeon (Song Hye Kyo) di sebuah rumah sakit dan saat itu Mo Yeon sedang memeriksa pasiennya. Aku melihat sosok Shi Jin agak sedikit ‘bad boy’ tapi aslinya dia sangat perhatian, care, dan baik sama orang-orang terdekatnya. Sedangkan Mo Yeon kelihatan lebih dewasa dan sangat cepat menalar pada sesuatu yang bersifat teka-teki sehingga dia cepat menyelesaikan masalah. Dia juga seorang dokter yang sangat pintar dan bijak. Karena ketulusan hati Mo Yeon lah yang membuat Shi Jin yang terlihat cuek itu akhirnya jatuh cinta.

Namun, perjalanan cinta mereka tidak semudah pasangan pada umumnya. Shi Jin sering meninggalkan Mo Yeon di tengah-tengah waktu kencan mereka karena panggilan darurat. Belum lagi waktu Shi Jin dan Mo Yeon harus terlibat di satu organisasi yang sama di negara lain demi suatu misi kebaikan. Hal itu yang membuat mereka bertemu setiap hari sekaligus mengancam nyawa Mo Yeon yang berpacaran dengan seorang tentara yang selalu bersahabat dengan senapan.

Walaupun begitu, Mo Yeon menjadi sangat pemberani karenanya. Ia bahkan pernah hampir mati dengan bom rakitan yang menempel di baju yang dikenakannya dan ia harus rela menahan sakit di bagian pundaknya karena tembakan dari Shi Jin untuk menghancurkan bom rakitan tersebut.

Cerita yang kompleks dan plot yang menurutku cukup menarik ini membuatku tidak bisa berhenti untuk lanjut menonton ke episode berikutnya. Sampai di episode terakhir, barulah aku mengerti makna yang terselip di drama ini. Salah satunya yang menempel di otakku sampai sekarang adalah bahwa kita tidak boleh berhenti menyerah dan harus terus melawan rasa sakit yang membuat kita lemah dan tidak berdaya. Kita, tidak boleh dikalahkan oleh rasa sakit itu. Kita tahu bahwa kemenangan itu adalah milik kita selagi kita percaya pada diri kita sendiri. Sesulit apa pun yang sedang kita hadapi, seolah kita tidak punya harapan dan semuanya sudah pergi, kita tetap tidak boleh berhenti untuk terus memiliki harapan tersebut. Perjuangan yang sesungguhnya bukanlah dilihat dari hasil yang memuaskan, tapi proses yang begitu panjang hingga menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Ini merupakan salah satu drama dengan cerita yang cukup sulit diterka dan dicerna karena banyak mengandung unsur militer dan politik yang memusingkan kepalaku. Tapi overall, aku suka banget sama drama ini.

Wednesday, June 29, 2016

long time no blogging



Dear fellas,


Akhir-akhir ini saya jarang sekali update blog huhuhu.


Tapi baru beberapa hari belakangan ini saya lagi asyik update blog Japanese version di Ameblo.


CHECK IT NOW! 



Sampai nanti lagi, ya!


Salam ♥,
Lidya


Wednesday, May 4, 2016

Movie Review: Ada Apa Dengan Cinta 2

"...aku akan kembali untuk mempertanyakan cintanya.."




Entah bagaimana rasanya aku mengutarakan perasaanku sebagai penonton yang sudah begitu sangat masuk dalam tokoh Cinta yang ditinggal sang kekasih pergi ke New York. Sejak pertama kali film ini ditayangkan di bioskop tahun 2002, aku sudah sangat excited dan langsung jatuh cinta dengan kedua tokoh tersebut. Dan pertanyaanku kala itu sama dengan kalian, apa alasan Rangga pergi meninggalkan Cinta?

Rangga pasti akan kembali, entah setelah berapa ratus purnama yang akan datang. Tapi aku yakin film Ada Apa Dengan Cinta ini akan berlanjut karena akhir yang 'menggantung' sehingga penonton harus berandai-andai apa yang akan terjadi selanjutnya jika Rangga kembali. Dan sampailah kita pada suatu masa di mana Rangga benar-benar datang menemui Cinta.

Ketika aku melihat kembali sosok Rangga yang angkuh, diam, penuh misteri berbincang-bincang dengan Cinta sambil sedikit menyipitkan sudut mata atau berbalik arah untuk menahan emosi yang mungkin menahannya untuk tidak marah, aku merasa Rangga yang kulihat saat ini berbeda dengan Rangga yang dulu. Kalian setuju? Kedatangan Rangga yang terkesan 'tiba-tiba' dan memaksa ini membuatku membanding-bandingkan dengan film yang sebelumnya. Ya, kali ini aku seperti menonton sebuah film komedi setara dengan film Hollywood yang sudah mendunia. Aku merasa terhibur, tapi tidak puas pada plot dan konflik yang flat dan akhir yang biasa-biasa saja.

Menurutku, untuk pemain sekelas Dian Sastro dan Nicholas Saputra, tidak perlu lagilah kita meragukan kemampuan akting mereka--jelas sudah di atas rata-rata. Tapi, aku berharap mereka bisa memberikan 'kejutan' mungkin dengan berupa scene yang membuat penonton tidak bisa membendung air mata dan semacamnya. Tapi aku tidak mendapatkan itu. Aku justru banyak tertawa karena kepolosan Mili yang sejak dulu memang tidak pernah berubah.

Dibalik kekecewaanku ini, aku masih sangat menghargai kerja keras mereka yang menyuguhkan beberapa karya sastra berupa puisi dan teater kecil karena kebetulan aku memang pecinta seni dan penikmat sastra. Walau aku merasa film ini berubah genre-nya menjadi komedi, bukan lagi film drama seperti Ada Apa Dengan Cinta yang kita kenal dulu, aku cukup terkesan dengan semua kru yang sudah benar-benar mempersiapkan semuanya dengan sangat rapi. Anyway, aku juga sangat suka scene di mana Cinta datang tiba-tiba untuk menemui Rangga dan menurutku itu sangat sweet--sampai-sampai aku berpikir akan melakukan hal yang sama untuk seseorang yang jauh saat ini.

Dua sejoli macam Cinta dan Rangga menurutku adalah legenda yang memang akan terus dikenang masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Dan aku tahu betul bagaimana rasanya berpisah di Bandara sehingga aku berani menyatakan bahwa film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu film favoritku sepanjang masa karena mampu membuatku takjub dan merasakan apa yang mereka suguhkan ke penonton bukan sebuah drama, tapi kenyataan. 

Perpisahan di Bandara adalah salah satu dari sekian banyak hal yang paling kubenci. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di atas udara sana--akankah kembali dalam waktu dekat atau tidak bisa bertemu lagi? 

Well, aku tidak mau banyak memberikan komentar di sini. Tapi sejatinya penonton mungkin berharap lebih di film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini. Biar bagaimanapun juga, kita tahu bahwa Cinta berjodoh dengan Rangga karena kembali dipertemukan dalam keadaan yang mungkin hampir sama dengan masa di mana mereka masih sekolah dulu. Kalau aku jadi Cinta, terdapat dua kemungkinan yang akan kulakukan: membuang jauh-jauh kenanganku dengan Rangga atau mendatanginya ke New York tanpa harus menunggu bertahun-tahun dengan ketidakjelasan yang tidak pasti. Intinya, aku tidak akan sanggup menanti lama dengan jawaban yang menggantung. Kalian setuju?

Wednesday, February 24, 2016

Diabetes Itu Membuntungkan Kaki Ayahku


Tahun 2009 merupakan tahun yang cukup berat untukku dan keluargaku. Kami harus menerima kenyataan bahwa Ayahku divonis Diabetes dalam level yang cukup membahayakan. Pasalnya, Ayah senang sekali minum teh manis setelah makan besar. Kebiasaan yang biasanya dianggap sepele oleh kebanyakan orang ini menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit mematikan itu.

Ketika mengetahui bahwa kadar gula di dalam tubuh Ayahku tidak stabil, Ayah mulai mengurangi mengkonsumsi nasi putih dan menggantinya dengan buah-buahan. Tapi, sayangnya ini malah menjadi bumerang—Ayah tidak tanggung-tanggung untuk makan buah secara berlebihan semenjak tidak makan nasi. Dan yang paling parahnya lagi, Ayah menggantikan kebiasaan meminum teh manis dengan soda tanpa gula. Padahal, sudah jelas-jelas dokter mengingatkan untuk menghindari segaja jenis soda karena sangat berbahaya untuk penderita diabetes.

Suatu ketika, pergelangan kaki Ayah sangat gatal. Semakin digaruk, semakin gatal. Sampai akhirnya berdarah dan mulai bernanah. Ayahku juga mengeluh pada gigi yang mulai otek dan kengiluan yang cukup menganggu. Aku pikir penyakit ini bisa disembuhkan dan pasti masih ada jalan lain walaupun sudah mulai menggerogoti kaki panjang Ayah.

Ibuku yang tidak henti-hentinya selalu mengingatkan Ayah untuk menjaga pola makan akhirnya angkat bicara. Kami setuju untuk membawa Ayah ke dokter yang lebih baik untuk mengeringkan luka Ayah yang bernanah agar tidak melebar ke mana-mana. Peralatan canggih yang ada di dokter tersebut ternyata cukup membantu proses penyembuhan Ayah. Selain rutin untuk terapi, Ayah juga menggunakan suntik pribadi dan menaruhnya di lemari es. Tapi, aku masih terus melihat Ayah meminum soda yang katanya no sugar itu. Ayah tetap bersikeras untuk tidak berhenti minum soda dan memakan buah-buahan dalam jumlah yang besar.

Saat aku terbangun dari tidur malamku, aku mengintip sedikit ke luar untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu rumah. Ayah! Ayah baru saja pulang dari kantor. Walaupun dalam keadaan sakit, Ayah tetap memaksakan diri untuk bekerja. Tapi, kali ini aku melihat sosok Ayah dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ayah membungkus kaki kanannya dengan plastik bening kemudian diikat dengan karet gelang untuk melindungi semburan nanah dan darah yang sempat mengalir beberapa kali di telapak kaki Ayah. Tidak hanya sampai di situ, Ayah berjalan dengan agak sedikit menyeretkan kaki kiri dan menahan kaki kanannya yang luka hanya dengan pertahanan satu kaki saja. Walau terapi dan obat suntik masih terus dilanjutkan, luka di kaki Ayah semakin parah dari hari ke hari.

Setiap aku pulang dari sekolah, aku berusaha untuk pulang lebih awal karena ingin mengetahui keadaan Ayah. Saat itu, aku hampir-hampir tidak percaya bahwa luka yang tadinya berawal dari gatal pada satu titik kini mulai menjalar di kaki kiri. Ayah tidak bisa menyetir mobil lagi. Dan Ayah pun berhenti dari pekerjaannya.

Di bulan ketiga, Ayah sudah semakin terkapar di ranjangnya. Keluargaku membawa Ayah ke RS untuk dirawat sampai keadaan kembali normal. Ayah kehilangan suaranya setelah kehilangan beberapa gigi yang ia keluhkan sakit setiap hari. Dengan terpaksa, aku harus mengurangi kegiatan sekolah yang tidak begitu diperlukan demi merawat Ayah dan menemani Ibu di RS. Ketika aku melihat pergelangan kaki Ayah, ibu jari Ayah sudah puntung dan aku tidak menyadari bagaimana penyakit gula darah itu habis menggerogoti jari-jari kaki Ayah.

Dokter menyarankan untuk mengamputasi kaki Ayah agar tidak melebar lagi. Tapi Ayah bersikeras tidak mau kehilangan kakinya. Karena Ayah memaksa pulang, akhirnya kami bawa lagi ke rumah.
Di bulan kelima pada September 2009, Ayah hanya mampu makan dari suapan Ibu saja karena sudah tidak kuat lagi menggerakkan anggota tubuhnya. Mata Ayah pun mulai sayu dan kulitnya menguning, tidak lagi kenyal dan agak basah. Luka di kaki kiri dan kanan Ayah sama sekali tidak membaik dan semakin hari semakin membusuk sehingga mulai mengeluarkan bau yang aneh. Ayah tidak lagi berbicara seperti biasanya. Terakhir kali aku dengar Ayah bicara waktu Ayah dimasukkan ke RS namun setelah itu cara bicara Ayah mulai tidak lagi jelas. Ibuku sabar merawat Ayah. Aku melihat betapa besar cinta dan kasih sayang Ibu kepada Ayah. Walau dalam keadaan yang sangat berat, Ibu tetap menunjukkan sikap bahwa Ayah pasti bisa sembuh.

Pada akhirnya, Ayah dimasukkan ke UGD tetapi di RS yang berbeda karena melihat kondisinya begitu memprihatinkan. Sudah sebulan lebih lamanya Ayah berbaring di kamar saja tanpa mandi, sikat gigi dan makanan berat. Ketika melihat tubuh Ayah yang digotong oleh beberapa anggota keluargaku, aku kaget bukan main karena ternyata tubuh belakang Ayah mengalami luka yang menyerupai luka di kaki. Penyebabnya adalah karena Ayah tidak pernah lagi menggerakkan tubuhnya ke kiri maupun ke kanan sehingga keringat yang tidak kering menjadi pemicu luka tersebut. Sungguh, aku sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku dan Ibuku pasrah pada takdir Allah.

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat wajah Ayah yang tertidur pulas di kamar UGD. Beberapa kali aku sempat mengusir nyamuk-nyamuk yang hendak menggigit kulit wajah Ayahku. Aku sentuh tangannya yang sudah dimasukkan jarum suntik oleh suster. Kutekan kulit tangan Ayah sampai agak menjorok ke dalam kemudian melepaskannya dan kulit Ayah tidak kembali—sentuhan yang aku berikan tadi membuat kulit Ayah tetap sama seperti ketika aku tekan dan aku mulai menitikkan air mata. Esok adalah hari di mana umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan keluarga mereka. Dan Ayah tidak pernah membuka matanya lagi untukku. Aku dan Ibuku menunggu di luar ruang pemandian mayat. Kami diam tidak salah satu dari kami mau mulai berbicara. Tubuh dan kaki Ayah yang luka mulai mengering dan berganti warna menjadi agak kekuning-kuningan, kaku dan dingin.


Dan aku yakin, Ayah pasti merindukan ceritaku di sekolah bersama teman-teman dan kelanjutan dari novelku yang akan diterbitkan nanti. Aku janji, suatu hari nanti aku akan menerbitkan novel itu untuk Ayah. Aku janji, suatu hari nanti aku akan menjadi penulis multi talenta seperti yang harapan aku dan Ayah.

Mengenal Toxoplasma Pada Hewan

Tidak!
Jangan dekatkan kucing padaku!
Kucing itu bisa menyebarkan virus mematikan!

Beberapa kali aku sempat mendengar kata-kata yang menyudutkan bahwa hewan kesayangan Nabi tersebut menjadi salah satu hewan yang paling ditakuti wanita terutama ibu-ibu hamil. Sebab berita yang beredar adalah kucing memiliki suatu penyakit/virus dan semacamnya yang bisa terjangkit pada manusia dan efeknya adalah mandul. Aku, sebagai pecinta dan penyayang kucing merasa sangat sedih atas pemberitaan yang sudah lama sekali menjadi isu di masyarakat kita. Walaupun aku bukan dokter hewan dan ahli dalam bidang medis, setidaknya aku bisa banyak bertanya ke dokter dan mencari tahu kebenaran dari kasus tersebut.

Tokso yang disebut-sebut sebagai virus itu ternyata merupakan parasit yang memiliki nama lain yaitu toxoplasma gondii. Ia adalah sejenis hewan bersel satu yang berbentuk protozoa. Toxoplasmosis adalah nama penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii tersebut. Toxoplasmosis terkenal sebagai salah satu penyakit yang harus diwaspadai pada ibu-ibu atau wanita hamil. Penyakit lainnya adalah Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Semua penyakit ini sering disingkat menjadi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes). Ketiga penyakit terakhir disebabkan oleh virus, sehingga orang sering salah pengertian dan menganggap toxoplasma adalah virus. Toxoplasma berkembang biak seperti siklus kupu-kupu. Dan kucing merupakan induk semang utama toxoplasma. Dalam tubuh kucing, toxoplasma dapat berkembangbiak dengan cara seksual maupun non seksual (membelah diri). Namun fakta yang sesungguhnya adalah bahwa tidak hanya kucing saja yang dapat dihinggapi oleh toxoplasma, hampir semua hewan berdarah panas seperti anjing, babi, sapi, kambing, kuda, tikus, domba, ayam dan burung juga dapat terinfeksi toxoplasma.

Kucing yang terjangkit toxoplasma hanya menyebarkan kista dalam jangka waktu 10 hari sejak terinfeksi. Setelah 10 hari, jumlah kista yang disebarkan biasanya sangat sedikit dan mempunyai resiko penularan yang sangat kecil. Penyebaran kista ini biasanya terjadi pada kucing muda karena tubuh mereka masih rentan untuk terjangkit penyakit. Sebaliknya, jarang sekali terjadi penyebaran toxoplasma pada kucing dewasa karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih baik dan relatif dapat mengendalikan sendiri infeksi toxoplasma tersebut.

Perlu diketahui, kucing ataupun hewan lainnya bukanlah penyebab utama kemandulan wanita yang dikait-kaitkan dengan toxoplasma. Banyak yang menyebutkan bahwa toxoplasma hidup di bulu atau air liur kucing. Jika ditelusuri secara ilmiah, penularan toxoplasma adalah bradizoit dan kista yang hanya dikeluarkan oleh kucing yang positif terinfeksi toxoplasma melalui kotorannya. Bukan di tubuh, bulu dan air liur kucing. Bahkan, jika seandainya pun di bulu kucing terdapat kista, penularan masih bisa dicegah dengan mencuci tangan dengan bersih. Fakta berikutnya yang perlu kita ingat adalah air liur kucing mengandung banyak vitamin sehingga tubuh kucing yang sudah dijilati oleh air liurnya menjadi sangat bersih dan bebas kuman.

Sebagian besar manusia yang terinfeksi toxoplasma ini tidak menunjukkan gejala sama sekali. Namun pada infeksi akut dapat mengakibatkan pembengkakan kelenjar pertahanan (limfoglandula) yang terdapat di sekitar leher, ketiak, dll. Begitu pun juga yang terjadi pada hewan, mereka yang terjangkit toxoplasma juga tidak menunjukkan gejala yang mencurigakan. Dan efek buruk yang terjadi jika toxoplasma ini terjangkit pada manusia baik karena tertular dari hewan maupun lingkungan dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Selain itu dapat juga menyebabkan peradangan pada saluran sperma. Akibatnya pria tersebut menjadi mandul karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk membuahi sel telur. Seperti pada pria, infeksi toxoplasma yang berlangsung terus menerus dapat menginfeksi juga pada saluran telur wanita. Bila saluran ini menyempit atau tertutup, sel telur yang telah dihasilkan oleh indung telur (ovarium) tidak dapat sampai ke rahim untuk dibuahi oleh sperma.

Inilah yang sering dikatakan oleh kebanyakan orang bahwa toxoplasma dapat menyebabkan kemandulan.

Selain daripada penyebaran toxoplasma dari hewan, ternyata ada hal lain yang bisa menyebabkan manusia tertular toxoplasma. Yaitu, memakan makanan yang tidak 100% matang, tidak dicuci dengan bersih, dan berikut juga yang dianggap sepele namun sangat penting yaitu jarang cuci tangan sehingga kuman bisa terjangkit dengan cepat.

Kucing peliharaan yang setiap harinya berada di dalam rumah, tidak memakan makanan sampah, tidak bergaul dengan kucing liar yang penyakitan, rutin dimandikan, tidak berburu tikus maupun kecoak, sudah disuntik vaksin oleh dokter hewan dan dirawat dengan baik sangat kecil kemungkinannya kucing tersebut terkena toxoplasma. Apalagi jika kucing tersebut tidak membuang kotoran di sembarang tempat. Dan sebaliknya, kucing liar yang tidak terawat, tidak pernah diperiksakan ke dokter hewan, memakan makanan sembarangan, pipis dan buang air di sembarang tempat akan sangat memungkinkan terjangkitnya toxoplasma tersebut.

Moeslemates, aku punya sahabat yang sudah berpuluh-puluh tahun memelihara kucing di rumahnya. Ada sekitar 10 ekor yang dirawatnya sampai meninggal. Sampai tiba saatnya menikah, ia tetap memelihara kucing seolah-olah mereka ini adalah bagian dari keluarganya. Baik itu pada saat hamil anak pertama sampai anak ketiga, ia tetap tidak melakukan diskriminasi atau perbedaan perilaku pada kucing-kucingnya. Ia hanya percaya dan menyakini betul bahwa yang mampu memberikan anak atau memandulkannya hanyalah Allah semata saja. Bukan karena kucing, maupun hal lainnya. “Nabi Zakaria yang sudah tua dan mandul saja tetap bersabar dan percaya bahwa Allah akan memberikannya keturunan. Sungguh, beriman itu rasanya nikmat sekali.” ucapnya lantang. Sampai-sampai ia menambahkan, “Jangan pernah takut mandul karena kau punya Allah. Jangan bertingkah dan berpikir seperti kau tidak punya agama. Aku ini tidur setiap hari dengan kucing-kucingku dan Allah tetap memberi keturunan sampai aku bisa melahirkan 3 anak yang sehat-sehat. Kurang baik apa Allah itu?”tambahnya.

Tidak!
Sungguh jangan takut untuk menyayangi hewan semanis dan selucu kesayangan Nabi itu.
Mereka itu tidak berdosa.
Dan mereka juga tidak berbahaya.
Jangan sebut-sebut lagi mereka adalah penyebar virus mematikan.

Saturday, January 23, 2016

Menjaga Kesehatan Telinga Itu Penting

Dear Bloggers,

Kalian tahu tidak betapa pentingnya kesehatan telinga itu? Ternyata, ini sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari lho. Walaupun terdengar sepele, coba perhatikan kisahku berikut ini.


Beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti medical check up yang rutin diadakan kantorku setiap setahun sekali. Semua pemeriksaan kesehatan mulai dari bagian kepala, telinga, mata, hidung, gigi, tubuh, hingga bagian perut lengkap dilakukan. Setelah hasilnya keluar, aku cukup kaget karena dokter mengatakan bahwa pendengaranku di bawah normal—yang dengan catatan “tuli sedang”.

Pantas saja, aku merasa memang pendengaranku tidak begitu bagus. Dan sepertinya ini terjadi sejak aku kecil. Bayangkan, aku tidak pernah datang ke dokter THT selain waktu medical check up saja. Umurku sudah 23 tahun dan bisa dikatakan aku tidak pernah tahu keadaan telingaku sebenarnya selama ini. Namun, yang aku sadari akhir-akhir ini memang ketika ada orang lain yang bicara denganku, terkadang aku merasa samar-samar. Lalu aku pikir suaranya dia saja yang terlalu kecil dan karenanya aku tidak bisa jangkau ucapannya. Ternyata, ini adalah kesalahan diriku sendiri yang tidak mau peduli dengan kesehatan telinga.

Semenjak hasil medical check up keluar, aku mulai wanti-wanti untuk menjaga kesehatan dari atas kepala sampai bawah kaki. Selama sebulan lebih aku memeriksakan telingaku yang ‘bermasalah’ ini ke Rumah Sakit di Jakarta. Tapi karena waktuku hanya senggang di hari Sabtu dan Minggu, sepertinya aku akan memilih Rumah Sakit lain yang bisa menerima pasien pekerja kantoran.

Datanglah aku ke dokter di Rumah Sakit Swasta di bilangan Jakarta Barat yang dokternya (alhamdulillah) perempuan. Waktu pemeriksaan pertama kali dilakukan di hari Senin, pukul 7 malam. Kala itu aku sempat dikatakan, “Wah, ini sih bukan kotoran biasa.” ujarnya. Aku takut bukan main. Mungkin saat itu aku sudah gemetar karena membayangkan akan sangat sulit mengeluarkan kotoran yang tersumbat di dalam telingaku. Duh, gimana ini. Tapi dokternya sangat baik dan meyakinkan aku kalau sekeras apa pun kotoran yang ada di dalam telinga pasti bisa dikeluarkan dengan atau tidak rasa sakit. Jujur saja, aku cukup kagum dengan semua alat kedokteran dan fasilitas yang begitu meyakinkan.

Setelah berkonsultasi, akhirnya dokter memberikanku obat tetes kuping yang dipakai dua kali sehari dengan takaran yang ada. Hari Jumat aku kembali lagi ke Rumah Sakit untuk proses penyedotan. Tapi ada yang aneh. Aku merasa selama 4 hari tersebut telingaku semakin ‘budek’. Rasa-rasanya, semua kotoran yang ada di dalam telingaku ini malah bertambah padat. Walau begitu, aku tetap berjuang selama 4 hari tanpa bisa mendengar dengan jelas. Hanya 30% saja suara yang terdengar dari sekitarku.

Sebegitu parahnya keadaan telingaku yang sebenarnya sampai-sampai dokter pun berkata kalau ini bukan kotoran yang biasa. Aku pikir setelah itu akan sangat sulit untuk diangkat. Tapi, aku terus optimis dan yakin Allah pasti sembuhkan. Ya, walau ini mungkin terdengar sepele, tapi kalau kalian merasakan ‘budek’ seperti aku selama 4 hari itu pasti tidak akan nyaman deh. Bayangkan saja, anggap pendengaran kalian itu seperti pengang dan banyak sumpelan yang membuat kalian hanya bisa mendengar suara orang yang benar-benar ada di sebelah kalian saja. Jangan harap ada orang yang teriak dari jarak 5 meter bisa terdengar di telinga aku pada saat itu.

Awal-awalnya, dokter mencoba untuk membersihkan telingaku dengan semprotan air. Setelah itu, disedot dengan alat yang aku sendiri tidak berani melihat bentuknya seperti apa—mungkin mirip dengan pipa kecil panjang yang bisa masuk di lubang telinga paling dalam sekali pun. Kemudian, aku merasa agak gatal dan perih sedikit waktu kotoranku disedot oleh alat tersebut. Terakhir, dokter mengambil alat congkel yang menurutku cukup mengerikan untuk mencabut kotoran yang ada di dalam telingaku. Agak sakit sih, tapi aku tahan. Dan kalian tahu tidak apa yang aku dengar setelah telingaku dibersihkan?

Suaraku sendiri!

Lho?

Iya, jadi selama ini aku tidak pernah mendengar dengan jelas bagaimana suara asliku. Aku hanya bisa mendengar suara orang lain walau ya, tadi, samar-samar.

Aku merasa aneh dengan ‘pendengaran baru’ ini. Alhamdulillah, bahkan aku bisa mendengar perbincangan orang-orang yang jauh ada di ujung sana. Aku malah merasa aneh. Jadi, pendengaran yang bersih dan sehat itu rasanya seperti ini ya? Aku melihat di layar komputer canggih milik dokter perbedaan sebelum kotoran di telingaku terangkat dan setelahnya.

Nah, lewat cerita ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati lagi pada panca indera kita sendiri ya. Jangan anggap mentang-mentang telinga ini, mentang-mentang hidung ini, lalu tidak mau merawat atau minimal dijaga kebersihannya. Pesan dari dokter akan selalu kuingat. Aku tidak mau lagi memakai alat pembersih telinga yang terbuat dari besi. Memang kotorannya lebih mudah terambil semua dibandingkan cutton bud, tapi gara-gara kebiasaanku itu jadinya berpengaruh di pendengaranku. Begini loh rasanya ‘budek’ bertahun-tahun.


Sekian dulu artikel hari ini semoga bermanfaat buat kalian semua.

Wednesday, January 20, 2016

Book Review

REVIEW BUKU
JANGAN PERNAH MENYERAH

by Aldilla D. Wijaya




Judul                         :           Sebab Allah Bersama Kita – Jangan Pernah Menyerah!
Penulis                      :           Aldilla D. Wijaya
Penerbit                    :           Qultum Media
ISBN                          :           979-017-326-1
Jumlah halaman      :           201 halaman
Cetakan                    :           Ketiga, Desember 2015


Bismillah.


Ketika membaca buku karya Aldilla D. Wijaya yang berjudul “Jangan Pernah Menyerah” seketika mengingatkan saya pada perjalanan hijrah saya di tahun 2013 lalu. Seperti yang tertulis di hal. 3,

“Tak ada alasan untuk berjalan, dan tak ada alasan untuk berhenti. Kita seperti tak punya pilihan. Kita berjalan hanya karena keadaan. Let it flow. Tak ada yang salah dengan istilah let it flow, cuma ya jangan keterusan mengikuti arus, karena kita sama-sama tahu hanya ikan yang mati yang selalu terbawa arus.”

Ketika memutuskan untuk berhijrah, maka banyak hal yang harus ditinggalkan di masa lalu. Kehidupan ini memang akan terus berjalan dan tidak berhenti pada satu titik. Namun yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita untuk berhijrah atau tidak adalah kemauan dan usaha dari diri kita sendiri. Karena pada saatnya nanti, kita akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, hidup kita ini harus terarah dan jangan biarkan keadaan membuat kita berjalan sayup-sayup seperti tidak punya tujuan yang pasti.


Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.
- Buya Hamka -


Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Kita sebagai manusia diberikan kelebihan khusus yang tidak serupa dengan hewan. Tidakkah kita ingin hidup yang Allah anugerahkan sekali saja di dunia ini menjadi hidup yang berkualitas, penuh berkat dan rahmat dari-Nya?

Manusia yang terjebak dalam ambisi duniawi akan sulit untuk meninggalkan atribut keduniawian sehingga merugilah ia bersama waktu. Oleh sebab itu, berhijrah mulai dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri toh tidak ada salahnya. Seperti yang disampaikan oleh penulis, “Jika tidak sekarang, kapan kita berubah?”

Setiap proses yang menghasilkan perubahan positif tentunya akan menjadikan hidup kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya menyimpulkan dari keseluruhan isi buku Sebab Allah Bersama Kita, Jangan Pernah Menyerah! bahwa ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika kita memutuskan untuk berhijrah—dan butir-butir tersebut adalah:


Rajin mencari ilmu Allah

Sejak kecil kita sudah disekolahkan oleh orangtua kita agar ilmu yang didapatkan bermanfaat untuk diri kita sendiri, keluarga, orang lain, maupun agama. Betul tidak? Orangtua mana yang ingin anaknya hidup tanpa ilmu dan pembelajaran dari sekolah maupun lembaga agama? Begitu pun juga jika kita ingin ‘dekati’ Allah, kita sangat perlu untuk menuntut ilmu di majelis agama.


Niat dan tekad yang kuat

Kalau kita hanya membayangkan melakukan sesuatu ini sesuatu itu adalah susah, maka hasilnya adalah nol besar. Kita akan sulit mencapai keberhasilan. Begitu pula yang dipaparkan penulis bahwa untuk menghancurkan dinding yang membuat kita tidak bisa berubah adalah dengan azimah atau tekad yang kuat. Allah akan senantiasa memperhatikan setiap langkah yang kita lewati dan Allah pasti akan memberikan cobaan di waktu-waktu kita mulai menginjak dinding yang sudah dihancurkan tadi.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-Ankabut [29]: 2)


Perhatikan teman-teman pergaulan

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang di antara kalian mencermati dengan siapa ia berteman.”
(HR. Tirmidzi)

Kita memang dianjurkan untuk berbuat baik tanpa memandang bulu. Tapi untuk urusan akhirat, kita perlu mem-filter dengan siapa kita akan bergaul. Karena ini akan sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku kita di lingkungan tersebut.


Belajar dari pengalaman orang-orang yang berubah

Dari setiap kisah hidup para nabi, ulama-ulama besar, dan orang-orang yang terdahulu menyisakan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti kisah akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam di laut karena ingin mengejar pasukan Nabi Musa yang sudah diselamatkan Allah terlebih dahulu.


Jangan lelah untuk berdoa

Keinginan yang kuat akan menghasilkan energi yang kuat pula apabila kita mampu mempertahankan dan meningkatkan doa kita setiap harinya. Dan energi tersebut dapat menyambungkan antara keinginan kita dengan dikabulkannya doa. Anggaplah seorang perokok yang ingin berhenti merokok, pernahkah ia meminta kepada Allah agar dihilangkan dari kebiasaan buruk tersebut?


Isi ulang iman kita dengan rutin datang ke majelis taklim

Sama seperti mobil yang bensinnya harus diisi ulang, layaknya iman di hati kita ini juga perlu di recharge agar bisa kembali ‘sehat’ dan mampu menjalani aktivitas penuh untuk mengejar surganya Allah. 

Nah, kalau sudah masuk dalam tahap yang lebih dalam, proses hijrah kita ini rasanya tidak akan afdol kalau tidak bisa mengoptimalkan ibadah secara keseluruhan. Tidak usah muluk-muluk, untuk di awal-awal sebaiknya kita coba untuk sempurnakan ibadah wajib saja dulu. Karena yang wajib tidak akan pernah berubah menjadi sunnah sedangkan sunnah bagi sebagian orang mukmin sudah menjelma menjadi kegiatan yang diwajibkan. Jika kita sudah mampu bertahan dalam ibadah wajib, barulah kita tingkatkan dengan menjalankan ibadah yang sunnah seperti menjaga wudhu, shalat tahajud, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Kemudian, dibarengi dengan tadabbur Al-Qur’an yang menjadi perpaduan yang sangat baik dalam step kita menuju satu tangga lagi untuk semakin ‘dekat’ dengan Allah.

“Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hadirkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya.”
- Ibnu Qayyim -



Bagaimana caranya agar tetap istiqamah?

Abu Bakar ra: “Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga.”
Umar bin Khattab ra: “Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling, seperti berpalingnya seekor musang.”
Utsman bin Affan ra: “Istiqamah artinya ikhlas.”
Ali bin Abi Thalib ra: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban.”
Ibu Abbas ra: “Istiqamah mengandung 3 macam arti yaitu istiqamah dengan lisan (bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqamah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqamah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
Ar-Raaghib: “Tetap berada di atas jalan yang lurus.”
Imam An-Nawawi: “Tetap dalam ketaatan.”
Mujahid: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah.”
Ibnu Taimiah: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri dan kanan.”

Semua pemaparan mengenai arti kata istiqamah di atas dapat disimpulkan yaitu kekonsistenan seseorang dalam berbuat kebaikan yang terus-menerus tanpa memikirkan balasan yang akan diterimanya—dalam artian ikhlas.

Hal yang menarik bagi saya dari paparan penulis dalam proses keistiqamahan tersebut adalah dengan menjadikan kebaikan tersebut sebagai habit atau kebiasaan yang akan sering dilakukan. Sehingga hal ini bukanlah lagi kewajiban yang menjadi beban kita melainkan sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika tidak shalat dhuha sebelum berangkat kerja rasanya seperti belum sarapan pagi sehingga bawaannya lemas saja.



Jangan Pernah Menyerah!

Sesuai dengan judulnya “Jangan Pernah Menyerah”, saya mewakilkan penulis dalam buku motivasi ini untuk menyebarkan energi positif kepada semua pembaca untuk tidak menyerah pada rintangan apa pun yang sedang kalian hadapi hari ini maupun di hari yang akan datang. Kita juga bisa analogikan ketika kita sedang memanah maupun melompat jauh, yang harus dilakukan justru mundur beberapa langkah untuk menghasilkan panahan yang tepat pada sasaran dan lompatan yang indah. Begitu juga penulis menggambarkan tentang arti kegagalan.

Seseorang yang sukses dan dikenal oleh khalayak luas mengalami ribuan kali kegagalan yang membawa mereka memahami bagaimana caranya menghargai sebuah proses. Andai saja Thomas Alva Edison berhenti di tengah-tengah eksperimennya, ia tidak akan sampai pada penemuan bola pijar yang siap pakai. Jika saja Soekarno menyerah ketika dibuang penjajah Belanda, mungkin ia tidak akan menjadi pemimpin yang mempersatukan Indonesia. Kalau saja Einstein putus asa ketika berada di titik terendah hidupnya, ia tidak akan menjadi ilmuwan besar abad ke-20.

Semua tergantung kita.
Semua tergantung kemauan kita, usaha kita, doa kita.
Bangkit jika gagal, bangkit lagi jika gagal lagi.

Begitulah kira-kira penulis memberikan banyak kalimat motivasi yang sangat mempengaruhi saya selaku pembaca awam yang masih terus belajar hingga saat ini dan nanti. Menurut saya, kalian yang ingin berhijrah secara totalitas sangat perlu membaca buku ini. Semakin terjun ke dalamnya, maka akan semakin jatuh cinta saja pada proses indah dibalik hijrahnya. Semoga kita diberi kemampuan untuk bisa istiqamah seperti penulis, dan Allah senantiasa memberikan kita hidayah agar tetap berada di jalan-Nya yang lurus. Aamiin.


------


Tentang Penulis

Aldilla Dharma Wijaya, lahir dan besar di Kediri sejak 21 Juni 1991. Mengaku merasa terlahir kembali pada saat ulang tahunnya yang ke-22, setelah beberapa bulan mengalami pengalaman spiritual dalam hidupnya.

Setelah hidayah datang, ia pun berhijrah dan memilih untuk menebar kebaikan di jalan dakwah. Baginya, visi adalah segalanya. Kini, ia sedang berjuang merintis visinya, yaitu revolusi penyebaran Islam di dunia.

Laki-laki yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan, Universitas Brawijaya, ini percaya bahwa melalui tangannya, Allah akan menuntunnya untuk mewujudkan visi tersebut, dan berkontribusi bagi kebaikan umat Islam.

Tuesday, January 12, 2016

my glasses

Assalamu'alaikum.



Maafkan kerandoman postingan kemarin. Aku hanya lagi benar-benar 'penat' dengan segala aktivitas yang sedang kulakukan sekarang. Anyway, hari ini aku ingin bahas mengenai kacamata. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu aku sempat melakukan medical check up. Alhamdulillah tidak ada penyakit yang parah. Tapi satu yang buat aku rada lemas waktu itu. Minus mataku naik lagi -- tidak perlu aku sebutkan ya berapa. Tapi yang jelas ini sangat berpengaruh ke pekerjaan dan kegiatanku nanti kalau tidak benar-benar bisa menjaga kesehatan mata. 

Karena berhubung aku belum sempat upgrade lensa kacamata, jadi mau tidak mau sementara aku pakai kontak lens saja dulu -- walaupun sebenarnya kurang bagus ya. Aku memilih untuk membeli lens yang tidak berwarna alias transparan. Kalau pakai yang transparan, biasanya aku jauh lebih percaya diri karena tidak kelihatan 'menor' alias natural. Tapi dari sekian banyak dan beberapa kali membeli lens yang mahal sekalipun, jujur saja aku tetap lebih nyaman menggunakan kacamata. Glasses is one of my favorite thing that I should wear.


But everyone look around me and said, you better take off of your glasses.